Senin, 08 Agustus 2016

EKPOSISI YOSUA PASAL 23 & 24

EKPOSISI YOSUA PASAL 23 & 24

BAB I
PENDAHULUAN
Kitab Yosua (bahasa Ibrani: ספר יהושע Sefer Y'hoshua; bahasa Inggris: Book of Joshua) adalah kitab keenam dalam Tanakh (Alkitab Ibrani) maupun Perjanjian Lama di Alkitab. Kitab ini merupakan kitab pertama dari Kitab Nabi-nabi yang Terdahulu, yang berisi kisah bangsa Israel ketika mereka merebut negeri Kanaan di bawah pimpinan Yosua bin Nun. Dialah yang menggantikan Musa memimpin umat Israel. Peristiwa-peristiwa penting yang dikisahkan di dalam buku ini ialah antara lain: penyeberangan Sungai Yordan, jatuhnya Yerikho, pertempuran di Ai, dan pengukuhan kembali perjanjian antara Tuhan dengan umat-Nya.
Nama Yosua diambil dari bahasa Ibrani: יהושׁע Yehoshua atau Yəhôšuª‘, yang artinya adalah “dengan pertolongan Yahweh. Selain nama nabi yang dikatakan menulis kitab dengan nama yang sama, nama ini juga nama Yesus dalam bahasa Aram. Yosua mulai dengan panggilannya untuk kepimimpinan; kitab ini berakhir dengan pidato-pidato perpisahan dan laporan mengenai kematiannya. Telah disarankan oleh oleh sementara orang, bahwa pasal 23 dan 24 adalah laporan mengenai peristiwa yang sama tapi agaknya paling baik memandangkan  Pasal 23 selaku pidato informal Yosua kepada para pemimpin umat itu, dan pasal 24 selaku pembaharuan perjanjian yang formal di depan umum. Disini saya akan membahas lebih jauh dalam pasal 23 – 24.





BAB II
LATAR BELAKANG
Kitab Yosua merupakan kelanjutan sejarah Pentateukh. Kitab Yosua mencatat peristiwa Israel menyeberangi Sungai Yordan memasuki Kanaan setelah Musa wafat, dan juga penaklukan dan menetapnya kedua belas suku Israel di Kanaan di bawah pemimpin Yosua. Tanggal alkitabiah untuk masuknya Israel ke Kanaan adalah sekitar tahun 1405 SM. Kitab ini meliput 25-30 tahun selanjutnya dalam sejarah Israel, mengisahkan bagaimana Allah memberikan kepada Israel "negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah untuk diberikan kepada nenek moyang mereka" (Yos 21:43).
Sudah sepantasnya, kitab ini dinamakan menurut tokoh utama yang memainkan peranan utama selaku pemimpin yang ditetapkan Allah sepanjang kitab ini. Sejarah pribadi Yosua mempersiapkannya dengan baik untuk menjadi pemimpin penaklukan. Yosua yang hidup pada akhir masa penindasan Israel di Mesir menyaksikan kesepuluh tulah hukuman, Paskah pertama, penyeberangan ajaib Laut Merah, dan tanda-tanda (dan hukuman-hukuman) adikodrati sepanjang perjalanan Israel di padang gurun. Ia menjadi panglima perang di bawah Musa dalam perang melawan suku Amalek tidak lama sesudah meninggalkan Mesir (Kel 17:8-16), dan hanya ia sendiri yang menyertai Musa naik ke Gunung Sinai ketika Allah memberikan Kesepuluh Hukum (Kel 24:12-18).
 Sebagai pembantu Musa, Yosua menunjukkan suatu pengabdian dan kasih yang mendalam kepada Allah dengan sering kali berada di hadapan Allah untuk jangka waktu yang lama (Kel 33:11); dialah orang yang sangat menghargai kehadiran Allah yang kudus. Ia pasti belajar banyak dari Musa, penasihat dan pembimbingnya yang dipercayai, tentang cara-cara Allah dan kesulitan menuntun umat itu.
Di Kadesy Yosua menjadi salah seorang dari dua belas mata-mata yang mengintai negeri Kanaan. Bersama Kaleb, ia dengan gigih menolak laporan ketidakpercayaan sepuluh mata-mata yang lain (Bil 14:1-45). Bertahun-tahun sebelum menggantikan Musa sebagai pemimpin Israel, Yosua sudah menunjukkan bahwa ia seorang yang beriman, bervisi, memiliki keberanian, setia, taat dengan sungguh-sungguh, tekun berdoa, dan mengabdi kepada Allah dan firman-Nya. Pada saat ia dipilih sebagai pengganti Musa, ia merupakan orang yang "penuh Roh" (Bil 27:18; bd. Ul 34:9). Tradisi Yahudi (Talmud) menyebutkan Yosua sebagai penulis kitab ini. Dua kali kitab ini menyebutkan bahwa Yosua menulis kitab ini (Yos 18:9; Yos 24:26).
 Bukti dari dalam kitab ini dengan kuat menunjukkan bahwa penulisnya telah menyaksikan sendiri penaklukan Kanaan (bd. "kita" dalam Yos 5:6; perhatikan bahwa Rahab masih hidup ketika penulis menuliskan kitab ini, Yos 6:25). Bagian-bagian yang ditambahkan setelah Yosua wafat -- mis. Yos 15:13-17 (bd. Hak 1:9-13); Yos 24:29-33 -- mungkin ditulis oleh salah seorang tua-tua "yang hidup lebih lama daripada Yosua" (Yos 24:31). Yosua wafat sekitar tahun 1375 SM ketika berusia 110 tahun (Yos 24:29).







BAB III
PEMBAHASAN YOSUA 23-24
Pasal 23 : 1-16 PIDATO PERPISAHAN YOSUA KEPADA PARA PEMIMPIN BANGSA ITU.
23:1-16 PIDATO PERTAMA
Ayat 1, Pada Israel Zaman purba, dan memang di kalangan bangsa-bangsa zaman purba pada umumnya, kata-kata perpisahan dari para pemimpin nasional dan kepala-kepala kaum keluarga dihargai tinggi sekali (Kej 49; Ul 32,33), dan pidato perpisahan Yosua kepada pemimpin bangsa itu rupanya mengesankan sekali secara mendalam. Ayat 2,  agaknya paling tepat membaca demikian : Yosua memanggil seluruh orang Israel, ‘yakni’ para tua-tua dan para kepala hakim dan para pengatur pasukan.
Ayat 3-16. Pidato itu dapat diringkaskan dalam dua bagian. Yang Pertama, pihak Allah dan  (ay 3,5,9,10,13-16). Ini terdiri dari :
a.       Apa yang telah dilakukan-Nya ( ay 3, 4, 9, 10, 14). Yosua mwngingatkan para pendengarnya mengenai apa yang telah mereka lihat sendiri: bagaimana Allah telah berjuang untuk mereka, memberikan warisan bagi mereka, mengusir musuh-musuh mereka, memungkinkan mereka menang terhadap musuh yang jauh lebih besar dan terus menerus membuktikan sama sekali setia kepada janji-janjiNya (ay 14.
b.      Apa yang akan Ia lakukan (ay 5, 13, 15, 16). Pertolongan Allah yang terus menerus bagi bangsa Israel dan keberhhasilan Israel yang terus-menerus dijanjikan (ay 5).  Ay 13, 15, 16 menunjukan bahwa ini adalah tergantung pada kesetiaan Israel kepada perjanjianm itu. Kemurtadan akan berarti bertukarnya seluruh hal yang baik yang telah mereka kenal, kepada kejahatan yang  brengsek.
Bagian utama ke 2 ialah pihak manusia. Tanggung jawab orang Israel meliputi 4 bagian hal. Ketaatan kepada hukum Allah (ay 6), Pemisahan dari bangsa-bangsa pemuja berhala di kanaan (ay 7), dan dalam ayat 12 secara khusus dilarang perkawinan dengan yang bukan Israel, kesetiaan (ay 8) dan meliputi segala sesuatu yang lain atau kasih (ay 11)
KESIMPULAN PASAL 23 :
Hanya ada dua macam orang tua, yang putus asa dan yang puas. Pergumulan paling menggelisahkan orang berusia lanjut adalah bagaimana mengisi kehidupan akhir mereka. Bagaimanakah Yosua mengisi bab terakhir hidupnya?
Jika kita membaca kehidupan dari Yosua yang kini telah berusia lanjut, tampak bahwa tidak banyak hal yang menggelisahkannya dan juga tidak banyak keterangan tentang hal ini yang dicatat Alkitab. Pasal 23 mengajarkan kita bahwa apa yang kita kerjakan pada masa muda kita menentukan masa tua kita. Semua pesan yang ditinggalkan Yosua kepada para penerusnya adalah pesan Tuhan kepada Yosua ketika dia masih muda dan penakut (6-9. Yos. 1:6-9). Pesan itu berkuasa karena didukung oleh hidup Yosua sendiri. Yosua telah lebih dahulu menyelami apa yang ia sekarang nasihatkan kepada penerusnya. Yosua berbicara sebagai seseorang yang telah menaati firman Tuhan, yang telah membuktikan sendiri bahwa semua perintah, janji, dan penyertaan Tuhan dalam firman-Nya itu benar adanya (Yos. 23:3-5, 10, 15). Kemuliaan Yosua yang telah lanjut usia itu tampak dari pancaran integritas imannya.[1]



PASAL 24 : 1-28 PEMBAHARUAN KOMITMEN TERHADAP PERJANJIAN DI SIKHEM (Pidato kedua dan pembaharuan)
Sebagai hasil langsung dari pertemuannya dengan para pemimpin Israel tersebut, Yosua memanggil seluruh bangsa itu ke Sikhem untuk menegaskan ulang sekali lagi perjanjian sebagai landasan hubungan mereka dengan Allah. Sekitar dua puluh tahun telah berlalu - masa penting pendudukan dan pemukiman di Kanaan serta masa penggabungan orang-orang baru (misalnya orang Gibeon) ke dalam Persemakmuran Ibrani. Sebagaimana telah dilakukan Musa sesudah masa pengembaraan (Ul. 30:15-20), demikian pula kini Yosua meminta agar setiap suku mengikrarkan kembali kesetiaan mereka kepada Allah sesuai perjanjian - bukan di Silo tetapi di Sikhem, kenapa harus di sikhem dabukan di silo? Karena di dekat Sikhem terdapat sebuah tempat suci kuno orang Ibrani. Di sini Allah untuk pertama kalinya menjanjikan Kanaan kepada Abram; di sini pula sang leluhur mendirikan mezbah pertama di negeri itu (Kej. 12:6, 7). Di sini Yakub juga telah mendirikan sebuah mezbah (Kej. 33:20) dan mengajak keluarganya untuk membuang semua berhala mereka (Kej. 35:1-4). Di dekat situ Yosua sebelumnya juga telah memimpin upacara peresmian perjanjian (Yos. 8:30-35).
George E. Mendenhall telah mengungkapkan dengan jelas sifat dari perjanjian dan pembaharuan perjanjian di Israel pada zaman Musa dan Yosua (Law and Covenant in Israel and the Ancient Near East, hlm. 24-44). Dari bentuknya, perjanjian Musa tampaknya paling dekat dengan perjanjian antara raja yang berkuasa dengan raja yang tunduk kepadanya melalui mana raja yang berkuasa mewajibkan raja yang tunduk untuk melayani dirinya dengan setia dan taat. Perjanjian semacam itu dijumpai di dalam perjanjian-perjanjian internasional dari kerajaan orang Het dengan kerajaan-kerajaan yang tunduk kepadanya, tahun 1450-1200 SM, namun yang paling akhir adalah menjelang akhir abad kedua belas SM. 'Peraturan-peraturan di dalam perjanjian itu sifatnya mengikat hanya dengan pihak raja yang tunduk saja, dan hanya raja yang tunduk saja yang mengucapkan sumpah ketaatan kepada perjanjian itu" (Mendenhall, hlm. 30). Meskipun raja yang tunduk berkewajiban untuk mengandalkan kemurahan dan dukungan perlindungan dari raja yang berkuasa, raja yang berkuasa mempertahankan "hak mutlak untuk menentukan nasib sendiri dan kedaulatannya"  dengan tidak mengikatkan dirinya pada kewajiban tertentu. Di dalam hal perjanjian Musa, orang Israel dan orang bukan Israel yang bergabung ( Bil. 11:4) berdiri sebagai pihak yang tunduk, dan Allah bertindak sebagai penguasa tertinggi mereka. Dengan demikian Allah menggunakan sebuah bentuk perjanjian baku yang dikenal di Asia barat ketika itu.[2]
Perjanjian yang diperantarai Musa tidak pernah diberitakan sebagai perjanjian yang berlaku selama-lamanya; oleh karena itu perjanjian tersebut harus dibaharui dari waktu ke waktu - setidak-tidaknya oleh setiap angkatan yang baru. Demikian juga karena perjanjian orang Het "tidak pernah dianggap mengikat secara abadi sejak semula, pembaharuan perjanjian itu dari waktu ke waktu diperlukan" seperti dengan ahli waris sesudah kematian raja yang tunduk. Demikian pula perjanjian tersebut senantiasa harus dibacakan di hadapan umum, baik di kalangan kerajaan orang Het maupun Israel. Setiap tahun raja yang tunduk dituntut untuk menghadap raja yang berkuasa untuk membayar upeti ( 24:1b; Ul. 16:16).
Sebagian besar unsur yang terdapat dalam naskah perjanjian orang Het dapat dijumpai di dalam upacara pembaharuan perjanjian di Sikhem.[3]
            Adalah cukup jelas bahwa apa yang kita baca dalam Yos 24:1-28 adalah pembaharuan perjanjian Sinai membuatnya mengikuti zaman, dan bahwa perjanjian ini mengikuti dengan dekat perjanjian kekuasaan raja yang disebut diatas. Salah satu sifat dari jenis perjnjian itu adalah kebutuhan akan pembaharuan sewaktu-waktu. Dan itulah yang kita lihat di sikhem, dimana Yosua memanggil bangsa Israel untuk bersama-sama mengukuhkan hubungan perjanjian hubungan mereka dengan Allah mereka (Ul 31:9-13). Penguraian dari pasal ini dapat mengikuti pembagian-pembagian dari bentuk perjanjian parohan kedua dari millennium SM.
            Ayat 2, Pembuat dari perjanjian itu diperkenalkan selaku TUHAN Allah Israel. Ayat 2-3 berbicara mengenai prolog historis atau melihat ke belakang. Disini ALLAH sendiri mengadakan pengulangan dari kebaikan-kebaikan-Nya pada masa lampau kepada umat-Nya. Panggilan Abraham dan penebusan dari mesir (ay 5-7) adalah bukti-bukti hubungan Khusus-Nya dengan umat-Nya. Salam pengalaman bangsa Israel sendiri kekalahan orang amori (ay 8) dan penyia-nyiaan rencana jahat Bileam (ay 9,10) penyeberangan sungai Yordan dan perebutan Yerikho (ay 11) dan kekalahan bangsa-bangsa kanaan. Membuat sejarah dengan mengungkapkan tidakan-tindakan kemahakuasaan ALLAH demi kepentingan bangsa Israel. Ini suatu bukti bahwa Israel adalah umat pilihan ALLAH dan pemeliharaan ALLAH terhadap umat Israel sangat sempurna.
            Kata TABUHAN (ay 12) : disini ada pandangan yang mengatakan bahwa ini adalah bala tentara mesir yang sudah menghancurkan negeri itu sebelum orang Israel masuk bergerak kedalamnya. Pandangan ini bergantung pada penanggalannya tentang penaklukan itu, tetapi pandangan ini telah di tolak oleh pandangan sekarang karena tidak ada bukti bahwa bala tentara mesir pernah merusak daerah og dan basan (kedua raja orang amori). Adalah sangat tidak mungkin bahwa yang dihujuk ialah wabah tabuhan secara har, dan barangkali petunjuk terbaik kepada makna kiasan yang hdiup ditemukan dalam perikop yang sejajar (Ul 7:20-23), TUHAN, Allahmu, akan menyerahkan mereka kepadamu dan akan mengacaukan mereka sama sekali, sampai mereka punah’.
Kekacauan dan kebingungan seperti yang disebabkan oleh serangan tabuhan adalah senjata rahasia dari Allah, dengan bantuan mana Israel menaklukan. Hal yang ditekankan ialah, bahwa kemenangan ddiperoleh bukan karena kekuatan tentara melainkan campur tangan Allah yang sangat menakjubkan, bukan oleh pedangmu dan bukan pula oleh panahmu (Maz 44:1-4).
AYAT 14-15 BERBICARA MENGENAI KETENTUAN-KETENTUAN POKOK. Ketentuan pokok ialah kesetiaan mutlak. (ay 15 jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu yang telah beribadah di seberang sungai efrat di mesir). Dalam hal ini Yosua cukup bijaksana menyatakan bahwa ada kemungkinan memilih (ay 15  allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini.) yang terakhir ini menjadi pencobaan terus-menerus dalam sejarah kemudian dari Israel. Yosua memberikan kesempatan untuk memilih, Yosua menyatakan pilihan yang tidak dapat di ganggu gugat. (ay 15b Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!")
AYAT 16-18 PENERIMAAN KETENTUAN-KETENTUAN PERJANJIAN. Ayat ini melaporkan penerimaan mereka atas ketentuan-ketentuan perjanjian dengan cara yang terlalu lincir. Hal ini mempunyai arti penting bahwa jawaban mereka dalam ay 170-18 didasarkan atas penerimaan mereka akan kebenaran apa yang dikatakan oleh penolong ilahimereka dalam ay 5-12, gampang sekali mereka mengatakan ‘ya’kepada apa yang dikatakan Allah terhadap mereka. Karena itu Yosua mengikat mereka dalam perjanjian yang di perbaharui dalam cara yang sehikmat mungkin.
AYAT 19-20 YOSUA MENGINGATKAN MEREKA. Yosua mengingatkan mereka bahwa bukanlah hal yang gampang apabila mereka mereka mengikat diri mereka untuk melakukannya. ( Ay 19 Tetapi Yosua berkata kepada bangsa itu: "Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN) Yosua menyatakan bahwa Allah itu kudus dan sangan cemburuan, justru tidak untuk di sembah dan tidak dilayani secara sepele. Jadi Allah yang disembah itu harus serius dan dengan khidmat, ini adalah penekanannya.
(ay 19 Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu) kata ini berarti Allah tidak berbicara secara umum mengenai pengampunan tetapi secara Khusus (yang selalu dijanjikan pedosa yang bertobat) melaikan merujuk kepada dosa khusus tentang penyangkalan secara menyolok terhadap Allah, sebagaimana di tunjukan dengan jelas di (ay 20 Apabila kamu meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing, maka Ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah Ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu.")
Agaknya ada persamaan dalam kasus ini denan dosa yang tak dapat di ampuni dalam Mat 12:31, 32 dimana tidak ada keampunan bagi mereka yang secara menyolok mengatakan, bahwa kekuatan-kekuatan kuasa Allah adalah dari yang jahat (baal-zebul atau beelzebul). Yosua memperingati umat Israel bahwa mengatakan kuasa yang hanya termasuk kepada Allah saja berasal dari baal-baal kanaan adalah dosa, yang jika terus menerus mereka lakukan, tidak akan diampuni.
AYAT 21-25 BANGSA MENGHADAPI TANTANGA DAN YOSUA MENEGASKAN PERINGATAN ITU. (ay 21b "Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah.") kemudian ayat 22 Yosua berkata kepada mereka bahwa mereka adalah saksi dari perkataan pereka bahwa tidak boleh menyeru kepada ilah-ilah kafir untuk bertindak selaku saksi-saksi, sebagaimana dalam perjanjian orang Het melainkan umat Israel sendiri yang disebut selaku saksi dari perjanjian itu. Yang menjadi pertanyaan apakah allah asing ada diantara mereka? Kata Ibrani yang ddi terjemahkan di tengah-tengah kamu dapat juga di terjemahkan didalam kamu ; benih-benih dari penyembahan berhala yang mungkin terdapat dalam hati mereka.
AYAT 26-28 PENYIMPANAN PERJANJIAN.  ( ay 26 Yosua menuliskan semuanya itu dalam kitab hukum Allah) tanpa ragu adalah untuk disimpan , sebagaimana dalam Ul 31:26 disamping tabut perjanjian TUHAN.  ay 27 digambarkan ada sebongkol batu besar didirikan dibawah pohon besar yang terkenal di sikhem, dinyatakan sebagai saksi pernyataan khidmat dari umat itu, jadi bisa dibilang sangat sacral ddalam mendirikan perjanjian ini. Dengan penuh perhatian ddapat dicatat, bahwa sebongkol tuguh batu gamping telah arkeolg-arkeolog yang mengadakan panggilan di tempat sikhem. Berkat dan kutuk yang biasa diikut sertakan kepada perjanjian-perjanjian seperti itu tidaklah dilakukan secara gambling seperti halnya dalam ulangan 28, tetapi hal itu dikemukakan secara implikasi pada peringatan-peringatan dalam ayat ini dalam ay 19-20. Kita bisa lihat juga pembahruan perjanjian dalam Yos 8:30-35.
Dengan demikian maka tindakan resmi yang terakhir dari Yosua, ialah memimpin bangsanya dalam suatu tindakan luhur pembaharuan perjanjian.
AYAT 24:29-33 YOSUA DAN ELEAZER MATI DAN DIKUBURKAN TULANG-TULANG YUSUF DIKUBURKAN. Yosua meninggal dalam usia lanjut. Penghormatan tertinggi kepada hidupnyatelah dipersembahkan apabila ahli sejarah suci menuliskan, orang Israel beribadah kepada TUHAN sepanjang zaman Yosua dan sepanjang Zaman para tua-tua yang hidup lebih lama daripada Yosua. Kitab ini berakhir dengan laporan mengenai pemakanan tulang-tulang Yusuf yang dibawa selama pengembaraan di padang belantara dan akhirnya si semayamkan di tanah perjanjian, di tanah suci di sikhem. Mungkin juga, sebagaimana dipertahankan oleh banyak penafsir bahwa pemakaman Yusuf itu dilakukan jauh hari sebelum Yosua meninggal. Tapi sesungguhnya justru penyusunan yang diilhamkanlah yang menempatkan laporan itu disinji, melambangkan pada penghujung kitab ini pesan dari seluruh kitab Yosua kasih setia Allah. [4]

KESIMPULAN PASAL 24
Dalam pasal ini Yosua dalam pidatonya dia menegaskan mengenai mengenal Allah yang benar dan jangan menyembah berhala seperti yang dilakukan nenek moyang bangsa Israel dulu supaya mereka tidak dihukum. Oleh sebab itu ada perjanjian-perjanjian itu diadakan kepada bangsa Israel supaya mereka taat kepada Tuhan dan mereka tidak menyembah berhala mereka. Dan perjanjian itu dilakukan sangat sakral dan nikmat karena perjanjian itu di hadapan Tuhan.























[1] Tafsiran Masa Kini 1 Hal 379
[2] Ibit Hal 40,41
[3] http/www.alkitab.sabda.org
[4] Tafsiran Alkitab Masa kini ; HUGH J Blair.

TAFSIRAN KITAB MIKHA PASAL 1 - 7

TAFSIRAN KITAB MIKHA PASAL 1 - 7

BAB I
LATAR BELAKANG KITAB MIKHA
PENDAHULUAN
Menurut tradisi Kitab Mikha ditulis oleh Mikha sendiri sesuai dengan judul Kitab. Rentang waktu penulisan kitab ini antara 740-701 SM pada zaman pemerintahan raja Hizkia.[1] Mikha menulis kitab ini pada pemerintahan Yotam, Ahas, dan Hizkia. Hanya sedikit pakar Perjanjian Lama pada masa kini yang akan mengatakan bahwa Mikha menulis keseluruhan kitab ini. Namun, sebagian ahli menyatakan bahwa Mikha menulis sebagian besar bahan yang kita temukan dalam kitab ini sekarang, dibandingkan dengan para penulis lainnya. Pada umumnya, para pakar sepakat bahwa Mikha menulis pasal 1-3, sementara yang lainnya mengatakan bahwa pasal 6 dan bagian-bagian tertentu dari pasal 7 juga ditulis oleh Mikha yang historis.[2]
Apabila Mikha bekerja pada pemerintahan raja Yotam (742-735 SM), Ahas (735-715 SM), dan Hizkia (715-687 SM), maka, itu berarti masa pelayanan Mikha berlangsung sekitar 50 tahun. Namun agaknya ia tidak sepenuhnya aktif sebagai nabi sepanjang periode ini. Ia aktif di kerajaan Yehuda pada abad ke-8 SM[3] dan merupakan salah satu nabi pertama di antara para nabi-nabi kecil. Sebagai nabi, ia berbicara sebagai perwakilan dari kehendak Tuhan. Sebagai orang biasa, ia memiliki pengetahuan dasar akan kesengsaraan kaum kecil di pedalaman dan dipersiapkan dengan cermat untuk menyuarakan murka Allah.
  







BAB II
TAFSIRAN KITAB MIKHA
PASAL 1:1-7 PEMBERITAHUAN HUKUMAN ATAS SAMARIA
Pasal 1:1 berbicara tentang pendahuluan kitab dan panggilan nabi Mikha. Kemudian dalam ayat 2 disitu ada ungkapan Hai Bangsa-bangsa sekalian!  Ungkapan ini mempunyai arti, bahwa tindakan Allah terhadap Israel mempunyai sebuah hubungan yang penting juga dengan nasib semua bangsa-bangsa disekitarnya. Informasi Allah ini datang dari Bait-Nya yang kudus (Ams 1:2) sebagai satu-satunya tempat perjumpaan yang sah bagi Allah dan manusia, disanalah terdapat mesbah untuk korban pendamaian yang bersifat mengantikan orang berdosa. Pernyataan dalam PL ini adalah bersifat tunggal dan yang ditunjukan disini kepada seluruh Allah semesta.
Ayat 3-7 menjelaskan tentang kemusnahan samaria dan Yehuda yang menjadi pusat penyembahan berhala. Ketika Tuhan ALLAH keluar dari Tempatnya yang kudus-Nya, maka akan terjadi kemusnahan yang ditimbulkan oleh bencana alam seperti letusan gunung merapi, gempa bumi, dan banjir karena hujan lebat sehingga menghancurkan gunung-gunung tempat mereka dirikan penyembahan berhala dan gunung-gunung itu terbelah dan hancur. Malapetaka itu Ia memperingatkan bahwa penghakiman Tuhan akan jatuh atas Israel dan Yehuda. Alam saja gentar menghadapi Dia , masakan manusia tidak takut terhadap Tuhan yang melihat semua kejahatan mereka? Apa dakwaan Tuhan terhadap Israel? Pemberontakan melawan Allah yang mahakuasa! Sementara Yerusalem telah menjadi tempat penyembahan berhala dan bukan tempat beribadah.  Kehancuran Yerusalem masih ditunda tetapi kehancuran Samaria sudah dekat waktunya (722 SM).
 Sangat dasyat kehancuran kota  ini sehingga kota samaria dijadikan puing-puing yang tandus dan tembok-temboknya yang terbuat dari batu akan terguling ke lembah, karena erosi dan tidak ada yang memperhatikan. Tentara-tentara asyur yang dipimpin oleh sragon akan menghancurkan berhala-berhala mereka dan merusak semua harta benda untuk pemujaan dewa-dewanya dan patung-patung nazar  yang ada di kuil-kuil allah mereka ( inilah yang disebut upah sudal dari kekasih-kekasih yang palsu, yaitu allah bangsa-bangsa ). Kemudian segala harta mereka dimusnahkan oleh musuh.

AYAT 8-16 NABI MERATAPI NASIB YEHUDA DAN YERUSALEM
Ratapan ini dipertegas dengan keadaan sekarat yang dialami oleh Mikha sendiri yakni Yehuda, yang meniru dosa Samaria dan karenannya harus menderita hukuman yang sama. Beberapa pokok Teologi yang muncul disini, yaitu :
1.      Haruskah Allah menjatuhkan hukuman yang begitu berat, seperti penyerbuan militer, dengan perampasan, perkosaan, pembakaran dan pembuangan? Sementara itu tidak ada jawaban yang memuaskan terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, yang pada akhirnya sebagai misteri Iman, ada beberapa kata kunci (Pkh 12:11) yang dapat dipakai sebagai tempat berpijak bagi refleksi kita. Pertama penyerbuan militer sebagai malapetaka yang turun dari Tuhan. (Ay 12), sebagai akibat dari kehendak Allah untuk mengerjakan karya keselamatan untuk kita ditengah-tengah sejarah umat manusia. Disni kehadiran Allah dapat berfungsi secara diam-diam melalui proses dimana kita terlambat untuk berpikir dan mengambil keputusan. Namun demikian hal ini dapat berfungsi dalam bentuk lain yang lebih keras dari pada reaksi manusia. Jika pemberian Allah itu mengatasi manusia, sekalipun dilaksanakan dalam tahap manusiawi, perjuangannya juga berubah menjadi sesuatu yang mengatasi kondisi manusia seperti kita saksikan dalam peristiwa salib Yesus.
2.      Aku berjalan dan tidak berkasut dan telanjang (ay 8) Mikha meniru nabi yang dari Yerusalem yang sekitar tahun 713 SM berjalan dengan telanjang dan tidak berkasut sebagai tanda (Yes 20:2-3) mengapa orang bersalah harus menderita, mengapa orang fasik harus menderita? (Hab 1:13), meskipun mereka harus lebih benar dari pada pemenang mereka?. Kehadiran orang tak bersalah dalam hal ini adalah Nabi Mikha dan desa-desa kecil dalam perjalanan pasuka Asyur memberikan satu-satunya harapan untuk sampai kepada kedamaian dan martabat manusiawi seperti dikehendaki Allah.
Di Gat janganlah sekali-kali sampaikan berita, jangan sekali-kali menangis (ay 10). Gad adalah salah satu kota yang ada di filistin terletak dekat dengan Yehuda dan mereka cenderung bergimbira ketika malapetaka menimpa bangsa Ibrani, karena bangsa Ibrani adalah salah satu musuh terbesar mereka. Oleh karena itu Mikha memerinthkan bangsa Yehuda untuk tidak menangis keras-keras jika malapetaka menimpa mereka, tetapi harus mendiam  selama-mungkin.
PASAL 2:1-11 KUTUK ATAS ORANG YANG TERTINDAS
(Ayat 1-5) Mikha menyatakan malapetaka atas orang tertentu yang cukup berkuasa untuk memeras orang lain supaya mencapai tujuan mereka yang mementingkan diri sendiri.
  1.  Mereka adalah tuan tanah yang membeli atau merampas ladang demi ladang; mereka tidak ragu-ragu untuk menipu orang lain agar menambah tanah milik harta mereka. Karena hatinya sudah mengabdi pada keserakahan, mereka tidak peduli lagi akan penderitaan yang diakibatkan pada orang lain.
  2. Allah mempunyai rencana bagi mereka; mereka akan menuai apa yang mereka taburkan. Allah akan mengirim Asyur untuk merampas tanah mereka dan membawa mereka ke dalam pembuangan.
Kekuasaan mereka juga bisa diterjemahkan sebagai allah mereka artinya mereka menjadikan kekuaasaan tertinggi  yang mereka akui.  Nubuat yang disampaikan oleh Nabi Mikha ditolak oleh para pendengarnya secara menghina, janganlah ucapkan nubuat kata mereka. Menurut orang-orang yahudi nubuatan itu adalah omong kosong, karena mereka merasa penghukuman tidak akan menimpa mereka. Itulah ungkapan orang-orang yang sombong, meterialisme, dan sudah keras hati.
(Ay 6) Dalam hal ini apakah boleh dikatakan Tuhan kurang sabar? (Ibr :qasar, har pendek) pertanyaan ini ialah pertanyaan otoritas. Sebenarnya Tuhan tentu tidak kurang sabar atau seperti inikah tidakannya? Hal ini menunjukan kepada tindakan-tindakan-Nya yang menghukum, sebenarnya hal itu bukan ciri watak-Nya dan bukan itu perlakuan yang Ia sukai terhadap umat-Nya, yakni Israel.  Biasanya perkataan-perkataan-Nya itu mempunyai maksud yang sangat menguntungkan bagi umat pilihan-Nya kalau mereka mau hidup dalam keadilan .  Tetapi kamu yang bangkit sebagi musuh terhadap umat-Ku (Ibr ETMUL: sebagai kata depan penunjuk yang artinya terhadapTERHADAP (ay 7). Mereka mungkin melakukan penyamunan ini terhadap pejalan-pejalan atau orang asing yang lewat di daerah mereka dengan tidak mengindahkan taurat mereka secara baik (Kel 22:21) (Ay 8).
 Orang-orang Ibrani yang fasik ini diperintahkan untuk bangkit dan pergi sebagai buangan, karna tanah suci tidak dapat menahan kebejatan dan kejahatan mereka yang sangat menjijikan itu. Secara hurufiah seandainya seorang yang mengatakan omong kosong dan kata palsu, berkata-kata dan mereka-reka yang hampa dan dusta maka nabi-nabi palsu ini siap sedia untuk memberitakan kabar berkat-berkat duniawi dan nikmat-nikmat nafsu, dengan sama sekali tidak mengindahkan Tuhan dan Torat yang perlu untuk kemakmkuran, ketahanan dan keamanan bagi suatu bangsa.
Ayat 12-13: JANJI TENTANG KESELAMATAN
Janji ini diberikan kepada sisa-sisa orang Yehuda yang takut akan Tuhan dan sungguh-sungguh dalam Tuhan dengan memegang printah-Nya, karena Tuhan mempunyai kata-kata yang benar dan memberi semangat bagi mereka yang taat kepada-Nya. Pengharapan Israel tidak terdapat pada keberhasilan yang langsung secara politis atau pada pembaharuan tata susila. Kemurtadan mereka pada zaman ahas sudah terlalau jauh, walau untuk sementara waktu berkurang pada zaman Hizkia dan Yosia. Tapi masa datang mereka dipautkan kepada golongan kecil orang beriman yang sungguh, yang akan tetap setia kepada Allah melalui penderitaan berat yang akan datang yaitu malapetaka secara kemiliteran dan pembuangan. “dengan sungguh-sungguh aku akan mengumpulkan engkau seluruhnya hai Yabub, yaitu sisa Israel”.
Kata Penerobos dari kata Ibrani Paras yang artinya “membuat lobang” ungkapan ini menunjukan kepada Allah sebagai pembebas umat-Nya dari pembuangan babel. ( kata ini pertama kali dipakai sebagai gelar Mesias (Obj 21), kira-kira pada abad ke 9 SM). Kemungkinan besar, ini menunjuk kepada Mesias. maka janji ini merupakan penyataan Allah yang memberi semangat untuk umat-Nya, bukan janji palsu tetapi janji sebuah kepastian keselamatan itu bagi orang-orang percaya.
PASAL 3: 1-4 MENENTANG PEMIMPIN DAN NABI PALSU DI ISRAEL
Kataku : baiklah dengar, hai para kepala Yakub (ay 1) ungkapan Mikha ini adalah suatu ucapan sapaan kepada golongan pemimpin dari pemerintah dan masyarakat pada pemerintahan ahas pada saat itu. Golongan ini mereka dipercayakan untuk mengurus peradilan yang jujur dan pelaksanaan hukum Taurat Allah, mereka mempergunakan kekuasaan ini sebagai mengeksploitir rakyat tanpa berpri kemanusiaan. Kekuasaan yang mereka pegang ini menelan rakyatnya dan mereka tidak peduli dengan keadaan rakyatnya yang seharusnya rakyatnya ini dilindungi oleh pemerintahannya. Mereka ini seperti kanibal yang memandang saudaranya lebih sebagai barang dari pada sebagai manusia, mereka merampas segala yang ada pada saudara mereka tanpa belas kasihan, seperti binatang buas yang kelaparan kemudian saudara mereka dijerumuskan kedalam kemelaratan, kelaparan, bahkan kepada maut. Akibat dari perbuatan mereka maka Penghukuman itu datang menimpa bangsa Israel dan penyerbu-penyerbu mengancam dan memusnahkan harta kekayaan mereka, bahkan hidup mereka sendiri. Sekalipun mereka berseru kepada Tuhan, tetap Tuhan tidak menjawab seruan mereka bahkan Tuhan menyembunyikan wajah-Nya terhadap mereka karena mereka sudah membelakangi Hukum Taurat Allah (Ay 4)
AYAT 5-8, NEGARA YANG RUSAK BERHADAPAN DENGAN NABI YANG DIPENUHI DENGAN ROH KUDUS
Mikha tidak mengutuk semua ramalam, ia hanya mengutuk apa yang diucapkan orang-orang serakah yang banyak dilakukan orang-orang pada zamannya. Sekali lagi bahasanya kasar yang menyesatkan bangsa, yang apabila mereka mendapatkan sesuatu untuk dikunyah maka mereka akan menyerukan damai, tetapi kepada orang-orang yang tidak memberikan sesuatu kedalam mulut mereka, mereka akan menyerukan perang. Menutupi mukanya, pada saat itu tanda itu menunjukan kesedihan (Yer 24:17-22) dan menjadi najis (Im 13:45) (ay 7). Ayat 8 mengemukakan tujuan dari pelayanan Mikha dan dengan jelas menyebukan ciri-ciri pelayanan Mikha.)
Ayat 9-12, PEMBINASAAN MENGANCAM PARA PENGUASA, IMAM DAN NABI
Sebenarnya ayat 9 mengulang gagasan kunci dari ayat 1, ayat 10 mengarah kepada penumpahan darah dan ayat 11 mengacu kepada penghakiman kepada pemimpin yang serakah dan sekarang mereka mempunyai keberanian untuk menyatakan Allah ada di pihak mereka. Ayat 12 dikutip oleh pemimpin Negara dalam Yer 26:16-19, hal ini untuk melindungi Yeremia dari hukuman mati karena mengatakan bahwa Yerusalem dapat dihancurkan seperti silo. Sepertinya  Silo adalah dulu tempat tabut disimpan dan menjadi pusat agama Musa pada zaman itu (1Sam 1:3) sekarang bangsa Filistin sudah merampas tabut itu (1 Sam 4). Mikha mengatakan hal ini pada zaman Raja Hiskia (Jer 26:18) Raja yang suka memperbaharui liturgy tetapi buta terhadap penghinaan dan pelecehan terhadap orang miskin. Karena kesalehan dan hati yang mengasihi Tuhan sebagai nabi yang percayakan Tuhan untuk memimpin bangsa Israel, para pemimpin itu berseru: bukankah Tuhan ada ditengah-tengah kita ! Ay 11. Sebenarnya penderitaan yang dialami manusia diakibatkan karena serakah dan nafsu dalam kepemimpinan, yang dimulai dengan mengusir rakyat dari rumah dan tanah mereka, kemudian membuat Yerusalem menjadi puing-puing.
PASAL 4:1-5 SION SEBAGAI PUSAT KERAJAAN DAMAI
“Akan terjadi hari-hari terakhir” ungkapan ini dipakai oleh Nabi Mikha untuk menunjuk kepada hari-hari yang terakhir yaitu kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Dalam penglihatan Nabi Mikha ia melihat kerajaan Allah akan ditempatkan pada kedudukan yang paling mulia dan kerajaan Allah lebih tinggi dari semua kerajaan di dunia.  “Bangsa-bangsa” dalam bahasa Ibrani Goyim yaitu bangsa-bangsa bukan Israel tetapi bangsa-bangsa yang bisa disebut gereja. Mereka akan datang berduyun-duyun ke gunung Tuhan yaitu gunung Sion yang kudus. “Ia akan menjadi hakim bagi banyak bangsa” yaitu Kristus sendiri yang akan menjadi hakim yang adil bagi semua bangsa. Sebab jika Ia sudah memegang kekuasaan yang tertinggi dan berkekuatan di tengah-tengah dunia. “ Mereka akan menempa pedangnya menjadi mata bijak” dalam perintah-Nya orang akan mengalihkan tenaganya dari membuat senjata-senjata perang menjadi alat-alat produksi yang berhasil dan bangsa-bangsa tidak lagi belajar perang.
Ayat 6-10 : Ayat 6 menunjuk pada nubuatan akhir zaman dimana Tuhan Yesus (Mesias) akan menggenapi-Nya dan pada akhir zaman Tuhan Allah akan memulihkan umatnya dari berbagai macam penderitaan. Ayat 7 menjelaskan bahwa orang-orang yang dipulikan Tuhan itu adalah sisa-sisa orang beriman dan bertobat di tengah-tengah bangsa Israel. Sesudah mereka berbalik kepada Kristus, Dia akan menjadi raja atas mereka secara langsung dan secara Pribadi diatas dasar yang teguh sampai selama-lamanya. Ayat 8 menjelaskan gunung sion tepat di sebelah selatan gunung moria. Bukit ini akan didirakan menara besar, mungkin sekali pada zaman Yotam, nenek Hizkia (2 Taw 27:3). Disini namanya disebut Menara kawanan Domba, karena dari sinilah keturunan daud mengamati sambil menjaga kawanan domba Israel.
Ayat 11-14 : keadaan yang digambarkan disini ialah tentera kasdim yang dipimpin oleh Nebukadnesar beserta sekutu-sekutunya mengelilingi Yerusalem yang sudah terkepung pada tahun 588 SM (2 Raj 24:1-2)  dan bermaksud menjarah dan merusak tidak hanya kota itu sendiri tetapi bait suci digunung moria juga. “biarlah mata kita puas memandangi sion” musuh Israel mereka sangat senang dengan kehancuran dan kerusakan yang terjadi di Yerusalem. Rupanya yang mengerjakan kebinasaan itu ialah putri sion, karena mereka yang melakukan pengirikan dengan kuku tembaga ( ini melambangkan betapa kuat pembinasaan mereka), kemudian dilengkapi lagi dengan tanduk besi ( berbicara tanduk berarti tenaga yang siap menyerang, yang jelas kelihatan pada tanduk lembu yang merunduk).  
Pasal 5:1-8 : RAJA MESIAS DAN PENYELAMAT ISRAEL
Nubuat Mesias ini sepertinya dikutip dari Injil Matius dalam hubungan dengan kedatangan para majus dari timur (Mat 2:5-6) dan oleh Yohanes dalam hubungan dengan kedatangan Yesus ke Yerusalem pada hari raya pundok Daud (Yoh 7:42). Pasal 5 dalam Kitab Mikha ini menubuatkan kedatangan dan karya Mesias. Nubuatan itu mencakup penggenapan segala sesuatu, yang menurut Mikha akan terjadi melalui dosa, penghukuman, dan penyelamatan. Dalam dua pasal terakhir ini, sang nabi menggambarkan dosa bangsanya, dan juga usaha keras TUHAN terhadap mereka dan penghukuman-Nya atas mereka; Mikha juga menubuatkan bahwa bangsa itu akan mengaku dosa mereka dan menerima berkat-berkat yang dijanjikan. Semuanya ini dikemukakan dalam bentuk tuntutan hukum. Sang nabi digambarkan sebagai penuntut umum bagi TUHAN, dengan gunung-gunung dan bukit-bukit (barangkali lambang keadilan yang tidak dapat berubah) sebagai pengadilan dan para hakim. TUHAN membuat pengaduan melalui sang nabi; bangsa itu menjawab; gunung-gunung dan bukit-bukit mengadili dengan diam. 
Mikha secara tiba-tiba beralih kepada sebuah pengalaman yang akan segera berlangsung.  Israel, di sini artinya Yehuda, akan menyusun kekuatannya untuk pengepungan, di mana raja yang memerintah, yang adalah hakim, akan dipermalukan. Ini sebagian digenapi dengan pengepungan Sanherib pada tahun 701 SM, dengan perebutan Yerusalem oleh Nebukadnezar pada tahun 587 SM serta pukulannya terhadap Raja Zedekia, dan dengan setiap pengepungan secara berturut-turut sampai kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M.
Betlehem (Ibr. Rumah Roti) di daerah Efrata terlalu kecil untuk mendapat tempat di antara kaum-kaum Yehuda, tetapi ditakdirkan untuk dimuliakan di seluruh dunia; sebab Mesias akan dilahirkan di tempat sederhana ini, di desa leluhur-Nya yang termasyhur, Daud. Yang permulaannya sudah sejak purbakala, sebab yang akan memerintah Israel adalah "Malaikat Tuhan" kekal, yang setaraf dengan TUHAN dalam.  Perempuan yang akan melahirkan mengacu kepada Israel yang menderita, atau ibu dari Mesias yang akan datang; yang terakhir ini lebih disukai.
Lalu, selebihnya (atau yang tersisa) dari saudara-saudaranya (sesama orang Yehuda) akan kembali kepada TUHAN dan pulang. Ia akan menggembalakan mereka . Mesias akan menjadi gembala yang bekerja dengan kekuatan dan keagungan TUHAN ( Yun 10:11; Ibr 13:20; I Ptr 5:4). Musuh-musuh tidak akan mampu menyerang sebab nama-Nya besar sampai ke ujung bumi. 4, 5. Dia menjadi damai sejahtera (Ef 2:14) dalam jiwa manusia, di antara manusia, di antara bangsa-bangsa. 
Apabila Asyur masuk. Asyur adalah musuh yang paling ditakuti pada zaman Mikha, dan bangsa ini di sini dipakai sebagai lambang musuh-musuh Israel. Dalam Mesias yang adalah Damai ini ada kuasa untuk mengangkat pemimpin-pemimpin yang akan melindungi Israel dan mengatasi musuh-musuh. Mikha menunjuk pada kemenangan Mesias yang akan datang itu atas segala kekuatan dunia. Sisa-sisa Yakub (Israel spiritual) akan ada di tengah-tengah banyak bangsa seperti embun dirus hujan. Umat sejati TUHAN disegarkan kembali dan berkat seperti embun dari Tuhan - yang bukan dibuat atau dihilangkan oleh anak manusia.

AYAT 9-14. KEMENANGAN AKAN DIMILIKI ISRAEL KETIKA MEREKA SUDAH DISUCIKAN DARI PENYEMBAHAN BERHALA
TUHAN menyatakan bahwa waktunya akan tiba ketika Dia akan melenyapkan (ay 9,10) semua peralatan perang yang padanya umat-Nya selama ini menggantungkan diri. Tuhan akan menyentakkan (ay 11-13) semua agama yang diciptakan manusia - dengan ilmu sihir, ramalan-ramalan, berhala-berhala, kuil-kuil, dan kota-kota mereka yang disediakan untuk penyembahan berhala - yang olehnya Israel telah disesatkan.  Lalu Israel akan bergantung kepada kuasa dan belas kasihan Tuhan sebagaimana dinyatakan dalam Sang Mesias dari Betlehem. Israel dan dunia harus mengakui bahwa pada Dialah mereka bergantung. Bagi bangsa-bangsa yang tidak mendengarkan pesan Tuhan (ay. 14), hanya akan ada murka (Mikha menyatakan secara tidak langsung bahwa sebagian orang menerima pesan itu)

PASAL 6:1-7 : PENGADUAN, TUNTUTAN DAN HUKUMAN TUHAN TERHADAP UMAT-NYA
Baiklah dengar (dengan taat). Sang nabi membuka sidang pengadilan; TUHAN menuntut supaya firman-Nya diperhatikan. Lancarkanlah pengaduan. Istilah hukum yang berarti, "mengajukan perkara di pengadilan." TUHAN meminta. Mikha bangkit dan mengajukan perkara-Nya melawan umat-Nya. Mempunyai pengaduan (kontroversi) ... dan Ia beperkara. Harfiahnya, membuktikan sepenuhnya. Umat-Ku, apakah yang telah kulakukan. Inilah pengajuan tuntutan resmi TUHAN terhadap umat-Nya, yang seharusnya membuat mereka teringat akan kesetiaan-Nya dan ketidaksetiaan mereka. TUHAN tidak menunggu jawaban, melainkan menunjukkan pimpinan dan perlindungan-Nya yang penuh rahmat dalam sejarah masa lalu mereka. Dia menebus mereka dari perbudakan di Mesir, memberi mereka pemimpin-pemimpin besar, dan melepaskan mereka dari Balak dan Bileam (Bil. 22-24). Tidak dapatkah mereka belajar dari pengalaman itu tentang keadilan Tuhan (ay. 5)? Jalan manusia bisa saja bengkok, namun dalam sejarah manusia, TUHAN menunjukkan kesetiaan perjanjian-Nya dalam jalan-jalan-Nya yang "lurus." Ay 4, 5.
Dengan gaya yang kelihatannya seolah-olah ketulusan, Israel menjawab melalui tiga pertanyaan khusus, dengan intensitas yang kian meningkat. Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN -
(1) Dengan persembahan kurban biasa berupa anak lembu? (ay. 6)
(2) Dengan persembahan kurban yang luar biasa jumlahnya, seperti "ribuan domba jantan, atau dengan "puluhan ribu curahan minyak?" (ay. 7)
(3) Dengan persembahan kurban yang sifatnya begitu luar biasa sehingga melupakan pelanggaran terhadap taurat Musa, yaitu, berupa anak sulung? (ay. 7b; bdg. Ul. 12:29-31; II Raj. 3:27; Hak. 11:30-40)
Bila keselamatan dapat dibeli seperti itu, dengan memberikan barang-barang materi sebagai pendamaian bagi dosa, maka semua umat manusia akan berusaha keras untuk mendapat keselamatan. Namun keselamatan yang benar adalah penyerahan roh. Israel telah melupakan hukum Tuhan mengenai penebusan anak sulung (Kel. 13:12, 13) dan pengalaman Abraham (Kej. 22).

AYAT 8-16 : IBADAH YANG BENAR HARUS DISERTAI DENGAN HIDUP YANG BENAR
TUHAN menyerukan teguran dan peringatan kepada kota Yerusalem.  Adalah bijaksana untuk takut kepada nama-Nya (yaitu TUHAN) dan karena itu diperlukan peringatan, sebab tongkat penghakiman - yakni Asyur - yang ditetapkan oleh TUHAN akan segera jatuh. Masakan Aku melupakan harta benda kefasikan? Yaitu yang berasal dari urusan-urusan yang tidak jujur dalam bisnis, neraca, palsu, batu timbangan tipu (ay. 11), penindasan terhadap orang miskin oleh orang kaya, berkata dusta dan penipu (ay. 12 (Yak. 4:1-12). Inilah cerita kuno tentang kondisi sosial, keuangan, dan moral yang korup - meskipun ada berbagai peringatan Tuhan. Karena itulah maka kebinasaan terjadi. (Ay 10-13)
TUHAN tidak sewenang-wenang dalam hukuman-hukuman-Nya. Hukuman-hukuman itu adalah akibat wajar dari dosa, yaitu: (1) kelaparan (harafiahnya  perutmu tetap mengamuk artinya "rasa bergejolak dalam perut disebabkan oleh kekurangan makanan" (ay. 14); (2) membanting tulang, tanpa kuasa untuk mengumpulkan harta, yang seandainya terkumpul, akan diserahkan kepada pedang; dan (3) kebinasaan. Seandainya saja bangsa Israel hidup dengan cermat mengikuti syarat-syarat TUHAN sama seperti cara mereka mengikuti kefasikan Omri dan Ahab! (ay. 16; I Raj. 16-22). Dalam kefasikan mereka yang terus-menerus, mereka masuk ke dalam berbagai tujuan dari hukuman TUHAN. DIA bahkan mengendalikan dosa untuk mencapai berbagai tujuan-Nya sendiri demi kemuliaan-Nya. (Ay 14-16)

PASAL 7:1-6 : KEMEROSOTAN AKHLAK ISRAEL
Pasal penutup ini melengkapi tuntutan hukum TUHAN terhadap Israel yang dimulai pada pasal 6. Bagian ini terpecah pemikirannya, yang menggambarkan sedalam apa emosi Mikha ketika menyuarakan jawaban bangsa itu - pengakuan dosa serta ratapan mereka.
Ayt 1-4 menyatakan Berkat berkat TUHAN yang digambarkan dengan panen buah telah lewat dari Israel, seru Mikha, dan bangsa itu sekarang miskin, akan manusia yang bermoral dan norma-norma moral. Perhatikan paralel antara orang saleh dengan buah anggur dan orang jujur dengan buah ara (ay. 1, 2). Manusia dengan moral seperti itu tidak ada, mereka hilang begitu saja. Semua manusia haus darah, bahkan melawan saudara mereka sendiri. Pemuka terus-menerus menuntut ketidakadilan; hakim selalu siap untuk disuap (Ibr. "membayar," seperti dalam perdagangan); dan pembesar memberi keputusan sekehendaknya. 
Mereka putar balikkan (ay. 3) menjadi kenyataan yang mengerikan. Pengintai-pengintai (ay. 4), yaitu, nabi-nabi sejati (Yes. 62:6; Yeh. 3:16 ). Hari para pengintai Israel adalah hari penghukuman TUHAN. Ay 5-6 Menjelaskan Masyarakat hancur sampai ke akarnya; ya, musuh-musuh seorang manusia adalah orang-orang dari dalam rumah tangganya sendiri. Kecurigaan, ketidakpercayaan, dan permusuhan berlaku. Dengan mempertimbangkan dunia modern, sifat manusia hampir tidak berubah (Mat. 10:34)

AYAT 7-13 :PENGHARAPAN BARU BAGI SION
Bangsa yang melanggar digambarkan sedang berbalik kepada satu-satunya sumber pengharapan Tetapi aku (jiwaku) ini akan menunggu-nunggu TUHAN. Sebab Allahku akan mendengarkan, "memperhatikan dan melepaskan." (Ay 7). Aku akan bangun pula. Musuh, bahkan bangsa Asyur, diperingatkan untuk tidak bersukacita, sebab TUHAN akan bersinar dalam kegelapan bagi orang-orang yang menunggu-nunggu Dia (Ay 8).  Kemarahan (harafiahnya. amarah yang mendidih).
Bangsa ini bersedia menanggung kemarahan Tuhan sebab dia menyadari akan dosanya. Di sinilah pertobatan yang sesungguhnya, dan juga iman bahwa TUHAN sendiri akan membereskan perkara itu (dosa) dan si orang berdosa akan dibawa menuju terang, supaya ia melihat dan hidup dalam keadilan-Nya. Musuh Israel akan melihat dan dengan malu ia akan menutupi mukanya; yang lebih parah, ia akan menanggung hukuman. Seperti itulah akhir bagi orang-orang yang mencemooh TUHAN (Ay 9-10)
Akan datang suatu hari bahwa pagar tembokmu akan dibangun kembali. Inilah kemakmuran, pembangunan dan perluasan perbatasan Israel. Apakah ini meramalkan perluasan Injil? Israel (barangkali Israel rohani) akan merupakan pusat atau tempat berkumpul, dan orang-orang akan datang kepadanya dari tempat-tempat jauh oleh karena berkat TUHAN atasnya, yang diinginkan juga oleh mereka. Atau, apakah pendatang ini barangkali adalah bani Israel sendiri yang terserak? Namun penghakiman sebagai akibat perbuatan mereka akan datang sebelum berkat. (Ay 11-13)

AYAT 114-20 : DOA MINTA TINDAKAN DAN BELAS KASIHAN ALLAH
Dalam bagian ini Mikha berdoa supaya TUHAN, sang Gembala, seperti pada masa gemilang dahulu, akan memberi makan dan memimpin umat-Nya, yang sekarang diam dengan aman dalam hutan. Jawabannya adalah janji akan pertolongan yang ajaib, sama seperti keluarnya bangsa ini dari Mesir. Teror akan merupakan ciri khas bangsa-bangsa penyembah berhala dengan hadirnya berbagai manifestasi kuasa Allah ini, dan mereka akan menyerahkan diri kepada-Nya dalam takut dan hormat. Betapa berbeda dengan bualan dan keangkuhan mereka ketika mereka mencela umat TUHAN (Hos. 11:10).
Nabi mengawali pujian bagi Allah ini dengan sebuah permainan nama, Siapakah Allah seperti Engkau? (lih. Pendahuluan, Judul), dan dengan pujian syukur, dia muncul dengan gambaran yang tiada tandingannya mengenai TUHAN ini.
Ø  Allah dengan kasih yang mengampuni 7:18.
Dia mengampuni (Ibr. mengangkat atau menanggung dosa orang lain, dalam arti mengampuni) dosa (Ibr. tidak lurus) dan memaafkan(melupakan; Ams. 19:11) pelanggaran (Ibr. pemberontakan). Kasih setia adalah sifat aktif dari belas kasihan-Nya.
Ø  Allah dengan kuasa menebus 7:19.
Dia menyayangi dengan lembut, bahkan seperti seorang ibu terhadap bayinya, dan akan melemparkan ke dalam tubir-tubir laut segala dosakita 
Ø  Allah dengan kesetiaan kekal 7:20.
Dia akan menggenapi perjanjian yang diberikan-Nya kepada Yakub dan Abraham (Gal. 3:29).
Siapa lagi yang adalah atau yang dapat merupakan Allah seperti itu? Betapa luar biasanya Dia memenuhi dan memuaskan segala kebutuhan manusia! Jadi, beberapa kata terakhir yang kita dengar dari mulut Mikha adalah kata-kata dari pujian yang sangat indah bagi Allah ini. Pujian bagi Allah seperti itu hanya bisa ada karena imannya kepada Allah. Allah bersumpah, dan Dia akan menepati sumpah-Nya (Ibr. 6:18-20).









BAB III
KESIMPULAN
Isi dari kitab ini sama dengan tema yang tercantum di dalamnya yaitu, nubuatan tentang hukuman yang akan dilakukan Allah karena bangsa Isreal tidak taat kepada Allah dan tentang keselamatan di dalam Mesias yang telah dijanjikan Allah untuk melepaskan bangsa Israel dari hukumannyaKitab ini mengajarkan bahwa setiap pelanggaran yang dilakukan akan mendatangkan hukuman bagi orang yang melanggarnya, namun Allah tidak akan membiarkan begitu saj orang yang menjalani hukuman, melainkan Ia juga menyediakan pengampunan dan keselamatan bagi orang yang mau merendahkan dirinya dihadapan Allah. Bagian-bagian yang menarik untuk diperhatikan dalam buku ini ialah: gambaran tentang kedamaian di seluruh bumi di bawah pimpinan Tuhan (Mikha 4:1-4); ramalan tentang raja besar yang akan muncul dari keturunan Daud dan yang membawa kedamaian kepada bangsa Yehuda (Mikha 5:2-4); dan, dalam satu ayat (Mikha 6:8), ringkasan dari semua yang hendak dikatakan oleh nabi-nabi Israel, yaitu: "Yang dituntut Tuhan dari kita ialah supaya kita berlaku adil, selalu mengamalkan cinta kasih, dan dengan rendah hati hidup bersatu dengan Tuhan kita."



[1] P.K. Pilon, Tafsir Kitab Mikha, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983) 13.
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Kitab_Mikha
[3] Dennis Green, Pembimbing kepada Pengenalan Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 2008) 198.