Minggu, 07 Desember 2014

EKSPOSISI KITAB AMSAL PASAL 1 – 9

EKSPOSISI  KITAB AMSAL  PASAL 1 – 9


PENDAHULUAN.

            Kitab Amsal ditulis sekitar tahun (setelah 700 SM), yaitu pada zamannya Hizkia. Dan amsal-amsal Salomo waktu itu dikumpulkan oleh pegwai-pegawai Hizkia, namun hal ini dijelaskan pada pasal 10 kitab Amsal tersebut. Untuk kumpulan Amsal Salomo lainnya tidak dijelaskan secara jelas, siapa yang mengumpulkannya.
            Sebelum membahas pasal 1 – 9, perlu lebih dahulu kita ketahui, apa yang dimaksud dengan Amsal ?  Menurut Diktat STTII – Eksposisi PL III, Amsal artinya “mewakili”.
Sebuah Amsal berarti suatu gambaran  berupa nasihat tetapi juga ganti banyak kata, dan di dalamnya ada perbandingan, kemiripan atau kesamaan , yang semuanya  merupakan ilustrasi yang menunjukkan realitas dasar kehidupan sebagai peringatan dan pengajaran.
            Kitab Amsal tidak ditulis oleh Salomo secara keseluruhan, namun dalam hal ini Salomo yang menulis Amsal lebih banyak dibanding dengan yang lainnya. Selain Salomo yang menulis Amsal ada beberapa orang lain yaitu Asap, Lamuel, dan Agur.

Sasaran dan Tujuan Kitab Amsal.

Setiap kitab pasti mempunyai tujuan penulisan, dan kepada siapa tulisan dalam kitab Amsal itu ditulis. Sasaran kitab Amsal adalah orang-orang yang tidak berpengalaman dan orang-orang yang berpengalaman. Bagaimanakah kategori orang-orang yang tidak berpengalaman dan orang-orang yang berpengalaman itu ?
·         Orang yang tidak berpengalaman adalah orang-orang yang berdosa (1 : 10,22), orang-orang yang tidak berpengertian dan suka pada kejahatan dan melakukan kejahatan.
·         Orang yang berpengalaman adalah  kebalikan dari orang yang tidak berpengalaman, yaitu mereka yang memiliki pengertian dan suka kepada kebenaran, berjalan di jalan yang lurus dan suka pada ajaran-ajaran yang benar.

PEMBAHASAN

A.       PASAL  1
Pasal 1 : 1-7 : sesuai perikop adalah berisi tentang tujuan Amsal secara keseluruhan, yaitu :
1.    Memberi pengetahuan tentang  hikmat dan didikan yang bisa diterima sebagai pengajaran tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran.
2.    Memberi pengertian tentang segala ibarat, perkataan dan teka-teki yang berkaitan dengan kehidupan manusia.
3.    Mendidik untuk takut akan Tuhan.

Ayat 9 – 19.

Dalam ayat-ayat  ini berisi tentang :
1.      Ajaran kepada anak-anak agar mendengar dan memperhatikan ajaran dan didikan orang tua.
2.      Tidak terbujuk atau terpengaruh oleh segala ajakan dari orang-orang berdosa (orang yang tidak berpengalaman), untuk berbuat dosa ataupun melakukan kejahatan. Ada beberapa bentuk kejahatan yang digambarkan dalam ayat-ayat tersebut, antara lain :
a.       Menghadang darah (ay. 11)
b.      Menelan hidup-hidup atau bulat-bulat (ay. 12)
c.       Perampokan (ay. 13)
d.      Perjudian (ay. 14)
e.       Penumpahan darah (ay. 16)
f.       Loba pada keuntungan gelap (ay. 19)


            Ayat 20- 33 mengenai NASIHAT  HIKMAT.
            Pengertian hikmat termasuk juga sama arinya dengan hikmah (menurut Kamus Ilmiah) adalah kepandaian, kebijakasanaan, kebaikan yang berharga, atau juga pengalaman yang berharga. Menurut penulis, jika diartikan secara keseluruhan, kalimat “Nasihat Hikmat” berarti  kemampuan yang diberikan untuk memahami segala ajaran kebenaran/ kebaikan, yang mengarahkan seseorang untuk dapat melakukan ajaran tersebut.
            Ayat 20 - 21.
       Dalam ayat ini dijelaskan, bahwa hikmat diperdengarkan di mana-mana (di jalan-jalan, di lapangan-lapangan, di atas tembok-tembok, di depan pintu gerbang kota). Dalam hal ini berarti pengetahuan / ajaran tentang kebenaran, kebijaksanaan, kebaikan, sama sekali tidak tersembunyi. Telah disebarkan di mana-mana tidak terbatas waktu ; dan semua orang dapat mempelajarinya, dengan tujuan supaya menjadi orang-orang pandai yang berpengertian dan bijaksana, serta hidup benar.
            Ayat 22
       Walaupun telah dijelaskan, bahwa ajaran tentang kebaikan tidak dibatasi keberadaannya, tetapi banyak orang yang tidak mau mencari ajaran kebenaran itu. Mereka tetap bertahan pada kejahatan mereka, dan orang-orang demikian disebut orang-orang bebal. dijelaskan dalam kalimat terakhir pada ayat ini.
            Ayat 23.
       Dalam ayat ini mengandung kalimat kerinduan, supaya orang-orang yang hidup dalam kebebalan atau dosa, mau berpaling, bertobat,  kepada kebenaran dan hikmat.
            Ayat 24-25
       Tetapi ajaran tentang kebenaran, pengetahuan tentang kebaikan, segala teguran untuk kembali kepada jalan kebenaran, mereka tolak ; mereka tidak menghiraukan ; mereka telah mengabaikannya.
            Ayat 26 - 31
       Ayat ini berisi akibat penolakan  orang-orang bebal itu, yaitu mereka tidak akan menemukan lagi kebaikan, tidak menemukan lagi hikmat dan kebijaksanaan, karena semua itu akan lari dari pada mereka, artinya mereka tidak menemukan lagi ajaran yang baik, ajaran yang benar, karena kesempatan itu telah hilang ; dan mereka dipersiapkan untuk masuk dalam hukuman.
            Ayat 32 – 33
       Di sini kita diberi pengertian, bahwa setiap orang yang berdosa atau bersalah, yang mengabaikan ajaran-ajaran benar, akan menerima ganjaran yang setimpal dari apa yang sudah diperbuatnya. Tetapi setiap orang yang mau mendengarkan ajaran hikmat (kebenaran, kebijaksanaan), berada dalam keamanan serta mendapat perlindungan dari malapetaka. 

B.       PASAL 2.
Ayat  1-4
Dalam ayat-ayat ini memberi gambaran tentang orang-orang yang bersedia menerima hikmat (pengajaran yang benar) melalui beberapa sikap sebagai berikut :
·         Ayat 1  : menerima dan menyimpan
·         Ayat 2 : ada dua hal :
1.      Memperhatikan dengan cara mendengar ajaran dengan sungguh-sungguh. Memperhatikan di sini yang berarti mencermati/ sungguh-sungguh.
2.      Memiliki kecenderungan hati atau lebih tepat dapat dikatakan hati yang menggebu-gebu (dorongan kuat dari dalam hati).
·         Ayat 3  : “….berseru kepada pengertian, dan menujukan suara kepada kepandaian.”
Jika diperhatikan, bagian ini semacam permohonan kepada pengertian dan permohonan kepada kepandaian. Hal ini tidak masuk akal, karena pengertian dan kepandaian merupakan kata sifat yang tidak bisa dimintai sesuatu. Orang meminta sesuatu tentu kepada sesama makhluk hidup. 
Penulis menangkap makna di sini bahwa pengertian dan kepandaian itu identik dengan seorang guru.  Atau bisa jadi pengertian dan kepandaian itu merupakan bidang studi yang diajarkan oleh guru yang mengajarkan pengertian dan keadilan. Jika hal ini diterapkan dalam ayat 3 ini, maka menjadi masuk akal, apabila seseorang memohon kepada guru untuk mengajarkan pengertian dan kepandaian kepadanya.
·         Ayat 4  : “ ….mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta   
terpendam”. Ayat ini berbicara tentang ketekunan dan kesetiaan atau pantang menyerah dalam mencari hikmat dan kebenaran. Karena hikmat dan kebenaran digambarkan seperti perak ataupun harta terpendam  yang tidak gampang mencarinya. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sulit dan memerlukan tenaga dan kemampuan ekstra untuk mendapatkannya.
      
       Pasal 2 : 5 – 19
       Ayat-ayat ini  merupakan faedah-faedah dari hikmat, yaitu :
·         Ayat 5  : memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan dapat mengenal Allah. 
Ayat 6  : menunjukkan asal- usul/sumber  hikmat dan pengetahuan, yaitu TUHAN, 
              (menunjuk pada pribadi Allah Bapa – Yahweh). Dan mengenal Allah (mengenal
              hakekat Allah dalam 3 oknum). Hal ini merujuk pada ketritunggalan Allah, sebagai
              sumber hikmat itu.
·         Ayat 7  : mendapat pertolongan dan perisai bagi orang yang jujur dan tak bercela.
              Kata “perisai” dalam kamus ilmiah popular berarti tameng. Tameng merupakan alat untuk melindungi diri dari senjata musuh pada waktu perang. Maka  perisai dapat diartikan sebagai pelindung. Jadi ayat tersebut memberi makna orang yang jujur dan tak bercela akan mendapatkan pertolongan dan perlindungan.
·         Ayat 8  : mendapat penjagaan dan pemeliharaan.
·         Ayat 9  : mendapat pengertian tentang kebenaran, keadilan, kejujuran, dan jalan yang baik.
·         Ayat 10:mendapat hikmat dan pengetahuan (“pengetahuan yang mengenyangkan jiwamu”),
              Kata mengenyangkan berarti  penuh/ memuaskan. Maka dalam hal ini orang yang
              melakukan kebenaran akan  memperoleh hikmat dan pengetahuan yang memuaskan
·         Ayat 11: “kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau”
              Ayat ini mengandung makna sama dengan ayat 8. Mandapat pemeliharaan dan pen-
              jagaan. Artinya orang yang berhikmat hidupnya akan dipemelihara dengan kebijak-
              sanaan, dan akan dijaga dengan kepandaian. Jadi kebijakasanaan dan kepandaian
              akan selalu mereka miliki.
·         Ayat 12: memperoleh kelepasan (dalam arti lain dijauhkan) dari :
-          Kejahatan dan tipu muslihat (ay. 12 )
-          Orang-orang yang murtad (meninggalkan jalan lurus, menempuh jalan gelap) (ay. 13)
-          Orang-orang yang menyukai kejahatan dan penipuan (ay. 14)
-          Orang- orang yang berliku-liku jalannya (berbelok-belok = tidak lurus), dan suka pada penipuan. (ay 15)
-          Perempuan jalang (liar), perempuan yang licin perkataannya (suka mengumbar perkataan manis yang mengandung kebohongan). (ay. 16) ; yang meninggalkan teman hidup masa mudanya (tidak menghargai pernikahan), melupakan perjanjian Allahnya (tidak hidup menurut firman Tuhan) (ay. 17)

       Ayat    18 dan 19 merupakan penegasan hukuman atau sangsi yang diberikan kepada perempuan seperti yang tercantum dalam ayat 16 dan 17. Mereka akan binasa (“rumahnya tenggelam ke dalam maut”), jiwanya akan penasaran/ mengalami ketidaktenangan dalam masa penantian (“jalannya menuju ke arwah-arwah”).
       Ayat 20  : merupakan peringatan, agar melakukan segala kebaikan dan kebenaran, supaya terhindar dari keburukan-keburukan yang terjadi seperti yang dialami oleh  perempuan jalang yang melakukan perbutan tidak terpuji itu ( pada ayat 16).
       Ayat 21 dan 22), memberikan perbandingan hasil perbuatan  antara orang yang jujur dan orang fasik : * orang jujur dan tak bercela akan mendiami tanah (artinya mereka yang hidup jujur dan tidak bercela akan mendapatkan tempat yang layak). * Sedangkan bagi orang fasik (orang yang menyimpang dari kebenaran perintah Allah/ orang durhaka/ jahat), mereka tidak mendapat tempat yang layak / baik, sebagai tempat tinggal mereka.

C.       PASAL 3. (Berbicara tentang BERKAT DARI HIKMAT)
       Dalam pasal 3 sebutan “hai anakku”  terdapat  3 kali ; dan ini menunjuk kepada orang-orang yang berpengalaman atau orang-orang yang menyukai hikmat, kebenaran, kebijaksanaan, dan jalan lurus. Jika kita perhatikan perikop di pasal ini “Berkat dari Hikmat”, maka pasal ini menunjukkan tentang hal-hal yang akan diterima bagi orang-orang yang melakukan kebenaran.

       Ayat 1-2   : mengingat dan memelihara ajaran dan perintah kebenaran, maka berkat yang diterima adalah panjang umur dan lanjut usia, serta sejahtera.
       Ayat 3-4   : tetap memelihara kasih dan kesetiaan dengan sungguh-sungguh, maka berkat yang diterima adalah kasih dan penghargaan dari Allah dan manusia.
       Ayat 5-6   : mempercayai TUHAN dengan segenap hati, bergantung sepenuhnya kepada-Nya, mengabaikan pengertian yang terbatas pada diri sendiri, dan tetap mengakui Dia dalam segala aspek kehidupan, maka berkat yang diterima adalah jalan lurus (artinya mendapatkan kelancaran dalam setiap perjalanannya, bebas dari  hambatan-hambatan/ rintangan-rintangan).
       Ayat 7-8   : tidak menganggap diri sendiri bijak ! berarti tidak sombong dengan kebaikan yang telah diterimanya,  dan harus takut akan TUHAN serta menjauhi kejahatan, berarti harus rendah hati, mengakui Tuhan sebagai otoritas tertinggi dalam hidupnya, mengakui Tuhan sebagai sumber keberhasilan ; maka berkat yang diterima adalah kesembuhan dan kekuatan pada tulang-tulangnya (tidak mengalami sakit-penyakit)
       Ayat 9-10 : memuliakan Tuhan dengan harta (dengan memberi persembahan hasil pertama dari segala penghasilan- acuan menarik terdapat dalam peraturan Imamat ), maka berkat yang diterima adalah lumbung-lumbung akan terisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahan akan meluap dengan air buah anggurnya. Artinya berkat Tuhan akan melimpah dan terus mengalir ; air buah anggur meluap ( ini menggambarkan tentang sukacita yang besar, yang selalu dirasakan.).
       Ayat 11-13 : tidak menolak didikan dan tidak bosan pada peringatan Tuhan (ay.11), karena jika Tuhan mau mendidik dan memberi peringatan berarti Tuhan menaruh kasih, yang digambarkan seperti seorang ayah kepada anaknya (ay.12). Berkat yang diterima oleh orang yang demikian adalah kebahagiaan (ay.13) ; memiliki keuntungan yang sangat berharga (melebihi keuntungan perak, emas, permata – tidak ada yang menyamainya) (ay.14-15) ; memiliki hidup yang berharga/ berarti. Keberhargaan/keberartian ini tidak dapat dibandingkan dengan permata apapun ; memiliki umur panjang dan kekayaan, serta kehormatan (ay.16) ; hidupnya sejahtera (ay.17) ; menjadi berkat bagi orang lain yang di sekitarnya (ay.18).
       Ayat 19-20 : menunjukkan tentang kemahakuasaan Tuhan yang memiliki hikmat dan pengertian untuk mengatur alam semesta ini.
       Ayat 21-26 : berisi anjuran dan peringatan
Merupakan peringatan atau suatu anjuran yang harus dilaksanakan oleh orang-orang yang berpengalaman, a.l : memelihara kebijaksanaan, karena : 1. menjadi sumber kehidupan ; 2. Jalan hidup akan aman, kaki tidak terantuk (tersandung-perjalanan mulus-lancar) ; 3. Dapat tidur dengan tenang dan nyenyak ; 4. Tidak mengalami hal-hal yang mengejutkan/ mengagetkan secara tiba-tiba ; 4. Tidak mengalami hukuman kebinasaan seperti orang fasik ; 5. Terhindar dari jerat pada kaki, karena Tuhan sebagai sandarannya. (ay.21-26)   
       Ayat 27-31 : berisi tentang anjuran untuk berbuat baik.
-            Berbuat baik kepada orang yang berhak menerimanya (ay.27
-            Tidak menahan/ menunda sesuatu yang diminta orang lain, apabila saat itu yang diminta ada (ay.28)
-            Tidak merencanakan kejahatan pada orang lain, bahkan kepada orang yang tidak curiga buruk kepada kita (ay.29)
-            Tidak melakukan pertengkaran dengan orang tidak berbuat jahat kepada kita (ay.30)
-            Tidak iri hati dan meniru perbuatan orang lalim (jahat, kejam, sewenang-wenang, bemgis) (ay.31)

Ayat 32-35 : berisi tentang perbandingan hasil perbuatan orang benar dan orang fasik.
-            Tuhan menganggap kekejian pad orang yang sesat (melakukan penyimpangan), tetapi bergaul erat dengan orang jujur (ay.32)
-            Kediaman orang fasik mendapat kutuk dari Tuhan, tetapi memberkati kediaman orang benar (ay.33).
-            Ia mencemooh kepada pencemooh, tetapi mengasihi orang yang rendah hati (ay.34).
-            Orang bijak mewarisi kehormatan, tetapi orang bebal/bodoh menerima cemooh (ay.35).

D.       PASAL 4 (Nasihat  untuk MENCARI HIKMAT)
·         Kembali Salomo menasihatkan supaya mendengar dan memperhatikan didikan seorang ayah (ay.1), dan mengikuti petunjuk untuk mendapatkan ilmu yang baik (ay.2) ; dia juga menuturkan keadaannya pada waktu tinggal di rumah ayahnya yaitu Daud, untuk memberikan contoh sikap sebagai seorang anak yang lemah dan sebagai anak tunggal bagi ibunya (Betsyeba) (ay.3). Pada ayat ke 4 dijelaskan, bagaimana ayahnya mengajarkan tentang keteguhan hati memegang ajaran benar, dengan tujuan supaya memperoleh hidup, memeperoleh pengertian untuk meraih hikmat (ay.5), dan tidak menyimpang dari perkataan mulutku (mulut Daud) tentang hikmat, supaya mendapatkan pemeliharaan dan penjagaan ; dan pengertian (ay.6-7)
·         Dengan benar-benar menghargai didikan hikmat, maka yang diperoleh adalah penghargaan dan kehormatan (ay.8)
·         Pada ayat 9 sebagai penegasan ayat 8, mengenai karangan bunga yang indah. Hal ini juga berbicara masalah penghargaan ; juga mahkota sebagai karunia kehormatan yang tinggi (merujuk pada tahta kerajaan). Namun ada makna ke depan bagi orang-orang percaya, bahwa mereka akan dimahkotai dengan berbagai mahkota penghargaan dari sorga, atas  keberhasilan pekerjaan di bumi (bnd.  I Kor. 9 : 25 ;  Yak. 1 : 12).
·         Ayat 10 membicarakan panjang umur yang diberikan, dengan suatu syarat harus mendengarkan perkataan hikmat.

       Dalam ayat 11 hingga 27 rupanya memiliki arah dan pengertian yang sama dengan ayat-ayat sebelumnya dari pasal-pasal sebelumnya juga. Mungkin hal ini dimaksudkan sebagai penegasan dan penjelasan ulang, supaya tetap diingat dan diperhatikan oleh pendengar dan pembacanya. Namun ada sedikit tambahannya pada ayat1 s.d. 3 yang sudah penulis jelaskan di atas, mengenai nasihat-nasihat raja Daud kepada Salomo, anaknya, yang dimaksudkan untuk diajarkan pula kepada anak-anak didik Salomo, yaitu orang-orang yang bersedia menerima didikan hikmat dan ajaran kebenaran.

E.       PASAL 5 (Nasihat mengenai PERZINAHAN)
                   Pada bagian ini cukup berbeda dari pasal-pasal sebelumnya, walaupun masih menyangkut tentang hikmat yang diajarkan.
Pada ayat 3 mulai,  diulang tentang perempuan jalang yang sudah dibahas dalam pasal 2 : 16-17. Namun mungkin ini tambahan dari pasal 2 itu, bahwa bibir perempuan jalang menitikkan tetesan madu. Madu adalah benda cair yang rasanya manis. Kalimat “menitikkan tetesan madu”memberi makna tentang  bibir (mulut) perempuan jalang yang suka berkata-kata manis seperti madu. Sebagai lanjutan kalimat itu adalah “ … langit-langit mulutnya lebih licin dari pada minyak”, yang berarti pandai berkata-kata atau memutar balik kata untuk tujuan memberikan daya tarik kepada lawan bicaranya. Dan jika kita perhatikan kalimat berikutnya pada ayat 4 : “tetapi kemudian ia pahit seperti empedu”, memberi makna tentang kata-kata yang mencelakai, menjerumuskan, memberi racun yang mematikan. Hal ini bisa disamakan dengan dusta atau kebohongan. Setelah kita perhatikan kalimat berikutnya, yaitu : “….tajam seperti pedang bermata dua”, dapat diartikan bahwa perkataan perempuan jalang itu keras, tajam, melukai, menyakiti.
            Ayat 5 dan 6 merupakan ganjaran bagi perempuan jalang, yaitu kematian, dan tidak mendapatkan kehidupan.
Nasihat Salomo kembali diulang pada ayat 8, supaya anak-anak berhikmat menjauhkan diri dari perempuan itu (tidak menghampiri rumahnya), supaya keremajaan anak bijak tidak ternodai. (ay.9). Keremajaan di sini mungkin dimaksudkan orang-orang yang baru saja menerima ajaran kebenaran, yang bila diukur waktu, mereka belum mengenal dunia kejahatan secara dalam atau pengalaman mereka masih dangkal. Dalam hal ini Salomo menjaga agar remaja (usia rohani yang masih muda), tidak sampai terpengaruh oleh dunia kejahatan yang menjerumuskan (Jauhkanlah dirimu dari pada dia). Dan pada ayat ke 10 bila diperhatikan tidak singkrun dengan ayat sebelumnya. Di sini berbicara mengenai kekayaan, dan hasil pekerjaan (hasil jerih payah) tidak masuk ke rumah orang yang tidak dikenal. Siapa yang dimaksud orang yang tidak itu ? dan apa hubungannya dengan kekayaan ? Dalam hal ini penulis memberi makna, bahwa jika pikiran seseorang sudah dikuasai dengan perzinahan, maka secara otomatis ia akan menghabiskan uang atau hartanya untuk memenuhi keinginannya / hawa nafsunya. Selanjutnya dalam ayat 11-14 orang itu menyesali perbuatannya dan masih ada kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar. (“Aku nyaris terjerumus ke dalam tiap malapetaka”). Kalimat ini menunjukkan seseorang itu belum jauh melangkah meninggalkan kebenaran.  Pada ayat 15-19, merupakan proses pertobatan dan  harapan-harapan kembali muncul, agar berkat-berkat kebenaran kembali dapat dia raih dalam pertobatannya. Dia mulai mendengar kata-kata nasihat :
-            Minumlah air dari kulahmu sendiri (ay.15) – menunjuk pada peringatan akan dirinya,  supaya menikmati apa yang sudah dimilikinya.
-            Patutkah mata airmu meluap keluar seperti batang-batang air ke lapangan-lapangan ? (ay.16) – pertanyaan ini merupakan usaha untuk menanamkan kesadaran, bahwa perbuatan yang sudah dilakukan itu adalah sesuatu yang tidak patut dilakukan. Dilanjutkan dengan ayat 17, “Biarlah itu menjadi kepunyaanmu sendiri, jangan juga menjadi kepunyaan orang lain”. Kalimat ini juga menyadarkan bahwa air itu adalah miliknya, bukan milik orang lain.
Air adalah lambang dari kehidupan. Semua makhluk di dunia ini tidak bisa hidup tanpa air.     Jadi benar, bila air yang sudah dimiliki tidak patut menjadi milik orang lain yang berdosa. Air itu harus tetap menjadi milik orang-orang berhikmat. Karena orang berhikmat patut mendapatkan kehidupan. Kalau orang berhikmat mulai berbuat dosa, maka maka air kehidupan itu sama dengan dia buang tidak ada artinya lagi, dan dia kehilangan kehidupan. 
Ayat 18-19 adalah ajakan, atau anjuran supaya tetap bersukacita dengan pasangan yang sudah ditentukan baginya, tidak lagi menyimpang ke lain perempuan ; dan sendang yang berisi air kehidupan tetap diberkati.  
Ayat 20 merupakan penyesalan Amsal karena perbuatan perselingkuhan orang bijak atau orang berhikmat. Hal ini adalah gambaran dari orang-oarng percaya sekarang, bahwa mereka tega meninggalkan Allah, menukar berkat-berkat Allah, dengan segala keinginan dunia yang menyesatkan.
Ayat 21 – 23 amsal menegaskan kemabali akan kuasa dan kemanatahuan Allah, bahwa tidak ada satupun perkara  di dunia ini yang tersembunyi. Semuanya terbuka di mata Tuhan, dan Dia selalu mengawasinya. Siapapun yang melakukan kejahatan akan menuai buah kejahatannya (seperti perbuatan orang fasik) yang terjerat oleh perbuatannya sendiri.

F.        PASAL 6 (Berbagai-bagai Nasihat)
Ayat 1-5 berbicara tentang orang yang dalam keadaan tertekan atau terjepit oleh suatu masalah dengan orang lain, oleh sebab perkataannya sendiri.
Pada ayat 2 mengatakan :”tertangkap dalam perkataan mulutmu”. Ayat ini menggambarkan tentang orang yang sedang tertangkap basah, ketika sedang membicarakan orang lain. Tetapi Amsal menasihatkan pada ayat 3 dan 4, orang yang mengalami demikian harus mau merendahkan diri    (berlututlah, dan desaklah sesamamu itu), memohon ampun kepada orang yang telah dibicarakan. Dan ada larangan pada ayat ke 4, (jangan membiarkan matamu tidur, dan kelopak matamu mengantuk), artinya orang yang sudah melakukan kesalahan itu tidak boleh menutup mata (seolah-olah tidak tahu), tetapi dia harus terbuka dan meminta maaf.
     Ayat 5 merupakan dorongan semangat yang kuat (lepaskanlah dirimu seperti kijang dari pada tangkapan, seperti burung daripada tangan permikat). Hal ini mengandung pengertian akan pentingnya semangat hidup untuk melakukan segala yang baik.
     Ayat 6-11. Rupanya ayat-ayat ini tidak ada hubungannya dengan ayat-ayat sebelumnya. Ayat- ayat ini berbicara kepada pemalas (orang-orang yang malas bekerja), bahwa mereka harus belajar kepada semut, yang dapat mengatur dirinya sendiri (tanpa pemimpin) untuk mendapatkan rejekinya,menyediakan makanannya pada waktu musim panas dan mengumpulkan makanan pada musim panen. Dikatakan pada ayat yang ke 11, bahwa orang yang malas akan mengalami kekeringan atau kemiskinan.
     Ayat 12-15 tidak ada kaitannya pula dengan ayat sebelumnya. Ayat-ayat ini memberikan beberapa criteria perbuatan yang tidak berguna a.l. : mulut serong (yang dimaksud mulut serong di sini adalah, mulut yang suka mengatakan hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan, termasuk fitnah, kebohongan) ; mengedipkan mata (seperti bermain mata, namun untuk memberi kode dan sebagai ajakan akan suatu perbuatan jahat. Atau dapat dikatakan sebagai bahasa isyarat kejahatan) ; bermain kaki, bisa diartikan perbuatan menendang – sama artinya dengan menyakiti orang dengan menggunakan kaki ; menunjuk-nunjuk dengan jari. Ini gambaran suatu tuduhan kepada orang lain berupa fitnah kejahatan. ; hati dusta/ tipu muslihat, suka merencanakan kejahatan dan menimbulkan pertengkaran. Ayat 15 merupakan klimaks akan perbuatan-perbuatan jahat yang diuraikan pada ayat-ayat sebelumnya, kebinasaan secara tiba-tiba dan kehancuran, tanpa ada pemulihan lagi.
     Ayat 16-19 menunjukkan beberapa criteria (7) perbuatan yang dibenci oleh Tuhan, a.l. : 
Sombong, lidah dusta, penumpahan darah (pembunuhan terhadap orang yang tidak bersalah), merencanakan kejahatan dalam hati, kaki yang segera lari menuju kejahatan, ini berarti tak ada waktu pertimbangan untuk membatalkan perbuatan jahat ; kebohongan yang menimbulkan perang saudara.
     Ayat 20-23 berisi nasihat supaya tetap memelihara perintah ayah dan tidak menyia-nyiakan ajaran ibu (1:6 ; 3:1 ; 4:1 ; 6:20 ). Karena perintah = pelita, ajaran = cahaya; mendidik = jalan kehidupan.
     Ayat 24-26  merupakan nasihat yang sama seperti yang disampaikan pada pasal 5 . Dalam pasal 6 merupakan pengulangan, mungkin sebagai penegasan kembali, karena ini suatu yang penting,  supaya mendapat perhatian lebih dalam dari para pembaca Amsal. Perlu penulis jelaskan mengenai isi dari ayat 26 : “Karena bagi orang sundal sepotong rotilah yang penting”. Ini berbicara tentang perkara dunia yang sia-sia. Bagi seorang pendosa yang terpenting adalah masalah kedagingan, yaitu urusan duniawi, dan tidak memikirkan hari depan yang akan membawa mereka pada penghakiman dan penghukuman.
     Ayat 27-35, berisi tentang gambaran-gambaran dari perbuatan manusia yang tidak mungkin dilakukan, missal : membawa api dalam gelembung baju (tentu terbakar) ; berjalan di atas bara (pasti hangus kakinya) ; penghukuman bagi orang yang berselingkuh ; pencuri (pasti dihina) karena mencuri untuk mengenyangkan perutnya ; orang yang melakukan perzinahan disebut orang yang tidak berakal budi, dan yang didapat oleh mereka adalah cemoohan dan siksa.

G.      PASAL 7
Ayat 1-5 berisi wejangan hikmat seperti pada ayat-ayat sebelumnya, yaitu pemeliharaan didikan dan ajaran tentang kebenaran.
Ayat 6-23 membicarakan tentang pemuda yang tidak berakal budi / berpengalaman sedang bertemu dengan perempuan perayu (tidak baik), yang mengajak teruna untuk melakukan kemesuman (perselingkuhan). Namun ada suatu kalimat yang mendapat perhatian penulis terdapat pada ayat 14 :”Aku harus mempersembahkan korban keselamatan, dan pada hari ini telah kubayar nazarku”. Ini adalah perkataan perempuan itu, yang berkata harus mempersembahkan korban keselamatan. Namun di saat bertemu pemuda, ia mengajak tidur di rumahnya, karena suaminya sedang tidak ada di rumah. Dalam hal ini penulis menangkap arti pada perbuatan yang sia-sia. Perempuan itu menginginkan keselamatan dengan memberikan korban persembahan, tetapi yang dilakukan adalah menyongsong perbuatan jahat. Makna yang dapat penulis berikan dari kisah ini adalah berbicara masalah komitmen diri untuk melakukan yang benar. Jika seseorang berkomitmen untuk berbuat kebaikan demi keselamatan diri, maka ia dengan segala upaya akan mengerjakannya, dengan menghalaukan pengaruh-pengaruh dunia yang menggiurkan. Perempuan di sini adalah  gambaran tipuan dunia yang mencelakakan umat Allah
Oleh sebab itu, Amsal dalam ayat 24-27 menasihatkan supaya memperhatikan perkataan-perkataan hikmat (kebenaran), tidak membelokkan hati kepada perzinahan (menyimpang). Diberitahukan pula, karena tipu muslihat iblis, sang penggoda, banyak yang tewas / binasa dan tidak sedikit jumlahnya.

H.      PASAL 8
Pasal 8 berisi tentang wejangan hikmat : mendengar didikan, berusaha menuntut kecerdasan dan kepandaian, nasihat untuk takut akan Tuhan dan membenci kejahatan. Pada ayat 5 disebutkan tentang “orang yang tak berpengalaman.” Sebenarnya dari segi mental mereka bukan orang-orang bodoh, melainkan seperti ditunjukkan sebelumnya adalah orang-orang berdosa. Istilah lain dari berdosa ini adalah “bebal”. Kata bebal dipakai 49 kali dalam Amsal, 18 kali dalam Pengkhotbah, dan 3 kali di tempat lainnya. Kata itu adalah bagian dari kosakata moral dari Amsal. Kata bebal dalam kitab Pengkhotbah sedikit berbeda pemakaiannya, demikian juga dengan kata hikmat. Dalam Pengkhotbah, “hikmat” adalah kemampuan berpikir yang jenius dan berdaya cipta ; sedangkan bebal / kebebalan = kebodohan, yang mengacu pada kesenangan akan karya-karya arsitektur, pertamanan, dsb. Namun dalam kitab Amsal, baik hikmat maupun kebodohan adalah jenis moral.

I.         PASAL 9
Sesuai perikop, pasal 9 berisi tentang undangan hikmat dan undangan kebodohan.
-       Ditujukan kepada orang-orang yang tak berpengalaman dan tak berakal budi (ay.4)
-       Makan roti dan minum anggur yang telah dicampur (ay.5)
-       Membuang kebodohan, mengikuti pengertian. (ay.6).
-       Takut akan Tuhan dan mengenal Yang Mahakudus. (ay.10)

                     



















































EKSPOSISI KITAB IBRANI

EKSPOSISI KITAB IBRANI


BAB I
PENDAHULUAN


            Surat Ibrani adalah sejilid kitab yang dalam lagi kaya. Dalam karena konsepsi surgawi dan kayak arena warisan surgawinya. Tujuan pelajaran Ibarani ini ialah membahas konsepsi surgawinya yang dalam berikut warisan sorgawinya. Untuk itu kita perlu memasuki kedalaman kitab ini. Jika kita ingin memasuki konsepsi dan kekayaan surat Ibrani, perlulah kita mengerti latar belakang penulisannya. Hal ini amat penting. Namun sanagt sukar memperoleh informasi mengenai surat ibrani ini. Kita tidak diberitahu siapa penulis dan juga tidak diberi penjelasan kepada siapa surat ini ditunjukan. Surat ibrani berbeda dengan surat-surat yang lainnya. Ia memiliki cirri-ciri yang khas . kalau surat-surat kiriman lainnya diawali dengan menerangkan kepada kita oleh siapa dan kepada siapa surat ini ditulis. Nah disini kami akan membahas apa aja yang ada di dalam kitab Ibrani.















BAB II
LATAR BELAKANG
Ibrani adalah sepucuk surat yang terletak di hampir akhir Kitab Suci, judulnya: surat yang dikirimkan kepada orang Ibrani, namun judul ini bukan ada dari awalnya. Menurut tradisi gereja, judul ini mungkin ditambahkan kemudian, jadi judul ini tidak mempunyai keabsahan untuk membuktikan bahwa surat ini ditujukan kepada orang-orang Ibrani. Salah satu penyebab mengapa surat ini dianggap sebagai surat yang ditujukan kepada orang Ibrani adalah ay. 1: nenek moyang kita telah menerima wahyu dari Tuhan, yang dimaksud nenek moyang tentu adalah para nabi di Ibrani.
Istilah Ibrani mempunyai arti: Orang yang datang dari seberang sungai besar sana, yaitu keturunan Abraham. Abraham dipanggil keluar oleh Tuhan dari kota Ur yang terletak di Mesopotamia, yang mempunyai sebutan the center point of ancient civilization. Mesopotamia terletak di antara dua sungai: Efrat dan Tigris. Tuhan memanggilnya keluar dari tempatnya, dari rumah bapaknya, dari tanahnya, dari negara asalnya, untuk pergi ke mana? Tuhan berfirman, pergilah ke tempat yang akan Ku tunjukkan kepadamu. Itu sebabnya dia disebut sebagai Bapak bagi Orang Beriman, karena dia bersandar kepada Tuhan yang berbicara, tapi tidak memberitahukan hal-hal detail kepadanya, tidak memberitahukan bagaimana jadinya nanti. Dari P.L. sampai P.B. terdapat tuntutan yang sama, ikutlah Tuhan dan jangan banyak tanya; ikutlah Tuhan dengan iman, serahkanlah hidupmu kepadaKu, karena Akulah Tuhan yang akan memimpinmu.
Sampai di mana saja, hal pertama yang Abraham lakukan adalah mendirikan mezbah untuk berbakti kepada Tuhan. Itu menandakan kemanapun dia pergi, dia tidak pernah lupa Tuhan, karena dia tahu, dia mengikut Tuhan, jadi pergi ke mana adalah soal kedua, yang penting adalah di mana saja dia berada, dia berbakti kepada Tuhan. Karena Abraham sadar dewa yang disembah orang Kanaan bukanlah Allah. Allah satu-satunya adalah Allah yang memanggil dirinya keluar dari Ur, itu sebabnya dia taat kepadaNya. Abraham disebut sebagai bapak orang beriman, karena dia menjadi contoh bagi kita semua. Waktu Tuhan memanggilnya, dia menyampahkan semuanya. Siapakah penulis surat Ibrani? Orang-orang yang mempelajari Alkitab dari abad pertama terus memperdebatkan hal ini. Ada yang berpendapat:
  1. Penulisnya adalah Paulus. Namun karena cara penulisannya, istilah-istilah yang dipakainya, bentuk kalimat dan tata bahasanya, cara pembahasan dan pemikirannya sama sekali berbeda dengan gaya Paulus, sehingga pendapat ini tidak mempunyai alasan yang cukup untuk menegaskan bahwa surat ini ditulis oleh Paulus. Misalnya, Paulus sering menggunakan istilah Injil, tapi surat Ibrani satu kalipun tidak memakai istilah Injil, meskipun seluruh isinya berbicara tentang Injil. Yang ada hanyalah: anugerah keselamatan. Selain itu, istilah kebangkitan Kristus yang mendominasi hampir 30% P.B. hanya muncul satu kali di dalam surat Ibrani. Sebab itu, mungkin sekali, surat Ibrani ini bukan ditulis oleh Paulus.
  2. Penulisnya adalah Barnabas yang pernah melayani bersama-sama dengan Paulus, yang sangat mahir tentang P.L. Tapi pendapat inipun tidak memiliki bukti yang cukup.
  3. Penulisnya adalah Timotius. Tapi pendapat ini juga tidak bisa diterima, karena surat Ibrani ada menyebut soal Timotius.
  4. Penulisnya adalah Apolos, seorang yang sangat mahir dan teliti dalam menjelaskan P.B. Memang sebelum Paulus pergi menginjili di Efesus dan memerintahkan mereka menerima Roh Kudus, Apolos ke sana (Kis. 19). Tapi pendapat ini juga dirasa tidak terlalu mungkin.
  5. Penulisnya adalah Stefanus. Karena menurut mereka, pembahasan surat Ibrani begitu mirip dengan cara khotbah Stefanus sebelum dia dirajam batu sampai mati (Kis. 7). Tetapi pendapat ini pun ditolak.
seorang bapak gereja berkata, mari kita dengan rendah hati dan terus terang mengakui bahwa kita tidak mengetahui siapa penulis surat Ibrani, kita hanya tahu buku ini diwahyukan oleh Tuhan melalui seseorang yang tidak menuliskan namanya dan tidak memberitahukan kepada kita siapa dirinya.[1] Jika kita ingin memasuki konsepsi dan kekayaan Surat Ibrani, perlulah kita mengerti latar belakang penulisannya. Hal ini amat sangat penting. Namun sangat sukar memperoleh informasi mengenai Surat Ibrani ini. Suarat Ibrani berbeda sekali dengan dengan surat-surat kiriman lainnya diawali dengan menerangkan kepada kita oleh siapa dan kepada siapa surat ini di tulis, Surat Ibrani dimulai dengan perkataan berikut,” Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dengan berbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi, maka pada zaman Akhir ini Ia berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” ( Ibr 1:1-2).
      Suarat Ibrani ini bukan sejilid kitab yang dangakal, melainkan sangat dalam. Tadinya Abraham berasal dari Ur-Kasdim, yakni yang dahulu disebut babel atau babilion. Antara Ur-Kasdim dengan tanah permai kanaan terdapat sebuah sungai besar yang mengalir dari utara keselatan. Ini sangatlah berarti. Segala sesuatu, termasuk tanah, adalah ciptaan Allah utnuk menggenapkan kehendak-Nya. Tanah Ur-Kasdim saat itu telah diduduki oleh satan,Iblis. Tanah itu penuh dengan berhala, sepenuhnya dirampas oleh musuhAllah dan dikuasai oleh si jahat. Karena itu Allah memanggil Abraham keluar dari tanah yang penuh dengan berhala itu. Allah hanya menyuruh Abraham keluar dari situ tanpa kemana ia harus pergi. Akhirnya Tuhan membawanya kesungai besar itu. Lalu ia menyebrangi sungai itu. Yosua 24:2-3 mengatakan bahwa Abraham dulu tinggal “ di seberang sungai Efrat “ kemudian Allah “ mengambilnya dari situ dan menyuruhnya menjelajahi seluruh tanah Kanaan “. Jadi dapat kita katakana bahwa orang Ibrani datang dari sebrang sungai.  Walaupun surat Ibrani sendiri tidak menyebutkan kepada siapa surat itu ditujukan, tetapi sebenarnya surat ini ditulis untuk kaum beriman Ibrani. Kaum saleh yang mengumpulkan surat ini “ Surat kiriman kepada orang Ibrani” ini sungguh menarik. Mengapa dikatakan “ kepada orang Ibrani”, bukan kepada orang yahudi atau orang Israel?[2]
     




BAB II
EKSPOSISI KITAB IBRANI
       1: 1- 4 Anak Allah Pengantara yang Mulia
A.    Prolog
 Dia sebagai pengantara Firman Allah. Ada dua kontras disini, yaitu zaman dulu dan zaman akhir. Pada zaman dulu pengantara Firman Allah adalah para nabi sedangkan di zaman akhir melalui Yesus (1- 2). Jadi pembicaraan Allah sekarang memiliki kemuliaan yang lebih dari pada dulu, dengan kata lain Kristus adalah puncak pembicaraan Allah di zaman akhir ini.
Pengantara ini lebih unggul dari pengantara- pengantara sebelumnya, sebab Ia adalah ahli waris, gambar dan wujud Allah, pencipta dan telah selesai sebagai penyelamat manusia (3- 4 ). Berikut ini fakta- fakta keunggulan Kristus yang dijelaskan dalam ayat 2- 4.
Dalam keempat ayat pertama pasal satu, yang merupakan pendahuluan, penulis surat berkata dengan singkat dan mutlak tentang beberapa hal yang menjadi dasar pembahasannya. Ia bermaksud membuktikan dengan ayat- ayat dari Perjanjian Lama bahwa Yesus ialah Kristus, Mesias yang dinanti- nantikan oleh orang- orang Ibrani.[3]
1.       Dia ditetapkan menjadi pewaris segala sesuatu, artinya berhak menerima segala yang ada. Ini nampaknya menjadi gema pernyataan dalam Mazmur 2: 8. Warisan yang dimaksud rupanya maencakup juga dunia yang akan datang ( band 2: 5 )
2.       Dia menciptakan segala yang ada. Ungkapan yang literalnya berarti “ masa- masa” ( jaman ) berarti juga alam semesta ( band 11: 3 ). Seluruh alam semesta, mencakup ruang dan waktu adalah hasil ciptaan Yesus Kristus ( band Yoh 1: 3 ; Kol 1: 16 ). Ia berhak mewarisi, sebab Ia juga yang menciptakan semuanya.
3.       Dia adalah cahaya kemuliaan Allah. Hal ini menegaskan bahwa Anak Allah adalah berkat cahaya kemuliaan yang telah menjamah hidup manusia. Kemuliaan Allah nampak dalam cahaya yang dipancarkan Anak.
4.       Dia adalah gambar wujud Allah. Yesus adalah keberadaan Allah sendiri, cap yang dihasilkan oleh gambar pada stempel. Kristus merupakan “ perwujudan dan pengejawantahan,” diri Allah yang sempurna. Melalui ayat 3 dan 4 ditegaskan bahwa Kristus meski berbeda dengan Allah Bapa, namun tak terpisah dari Allah; dengan demikian perbedaan dan kesatuan dijelaskan.
5.       Dia menopang segala sesuatu. Firman yang telah menciptakan ini juga yang menopang dan mengarahkan semesta ini kearah sasaran yang telah ditentukan.
6.       Dia menyucikan dari dosa. Penulis bergeser dari menguraikan peran Kristrus semesta ke karya- Nya yang dilakukan- Nya bagi umat manusia. Yang tidak terjangkau oleh upacara korban, kini diwujudkan- Nya dengan sempurna.
7.       Dia duduk di sebelah kanan Allah. Pemuliaan dan keagungan Kristus yang melebihi segala sesuatu. Ia “ duduk ” dikontraskan dengan pelayanan imam keturunan Harun yang tetap berdiri, sebab tata upacara korban mereka tak kunjung berakhir ( band Maz 110 ).
Ungkapan “ lebih baik ” dipakai 13 kali dalam surat ini, untuk mengontraskan Kristus dengan tatanan barunya dengan apa yang mendahuluinya. Dan secara khusus di sini dikontraskan dengan malaikat, yang rupanya menjadi objek ibadat pada waktu itu.
Uraian mengenai diri dan karya Kristus, yang secara khusus dikontraskan dengan lain- lain, semestinya menyadarkan pembaca terhadap siapa yang dibahas. Meskipun nanti akan dibahas lebih terinci, namun jauh sebelumnya penulis ingin menunjukkan bahwa Kristus adalah Anak Allah yang maha mulia, wajar apabila orang percaya harus mendengarkan dan menghormati Dia.
            Bagian I: Kristus Anak Allah yang Rajani ( 1: 5- 4: 16 )
Dengan prolog tersebut, kini pembaca dibimbing untuk memperhatikan bagian pokok yang pertama dalam uraian kitab Ibrani. Tema peran Kristus sebagai Anak Allah dibahas. Khususnya, posisi Anak tersebut dikaitkan dengan janji Anak yang rajani, seperti yang diuraikan dalam perjanjian Daud. Puncak uraian ini diungkapkan melalui himbauan, agar setiap orang percaya menyediakan diri untuk menerima rahmat dan menemukan kasih karunia ( 4: 16 )
1.      Anak Allah yang Rajani dimuliakan ( 1: 15- 14 )
Dengan mengutip sejumlah paragraph dari Mazmur penulis membuktikan bahwa Kristus jauh lebih istimewa dibanding dengan malaikat. Bahkan Dia tak tertandingi dengan malaikat. Baik dari segi gelar, hak keillahian, maupun aspek lainnya, malaikat tak punya tempat dibanding Anak Allah. Dia adalah Raja atas segala raja yang diperanakkan oleh Allah ( 1: 5 ). Ke- Raja- anNya dinyatakan BapaNya dimulai dari makhluk yang supranatural yang paling dekat dengan BapaNya harus menyembah Dia.
Penulis mengawali argumentasinya bahwa Dia adalah Anak Allah yang Rajani dengan menyatakan bahwa malaikat- malaikat pun harus menyembah Dia ( 1: 6 ). Ini dikarenakan memang Dia lebih tinggi dari segala malaikat ( 1: 7 )
2.      Anak Allah yang Rajani Ditetapkan sebagai Mesias yang dijanjikan ( 1: 5 )
Sebagai kelompok malaikat memang disebut Anak Allah (band Kej 6: 2, 4 ; Ayub 1: 6 ; 2: 1 ; 38: 7). Dengan mendasarkannya kepada Mazmur 2: 7, penulis menunjukkan gelar Anak yang sejati adalah milik Mesias. “ Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini ” yang diambil dari Mazmur penobatan ini, mengaitkan gagasan ini dengan peristiwa yang dijelaskan dalam 1: 3, bahwa posisi ini terkait dengan perjanjian Daud II Sam 7: 14 ; I Taw 17: 13 di dalam ayat 5b. Memang kepada penggenapan nubuat ini saja hak untuk meminta seluruh bumi sebagai taklukan akan dipenuhi ( band Maz 2: 8 ). Kalau begitu gelar Anak Allah adalah karya khas untuk Kristus.

3.      Anak Allah yang Rajani akan Datang Kembali ( 1: 6 )
Mulai dalam ayat ini hak Illahi Anak mulai dijelaskan. Dengan demikian kelebihan Anak atas malaikat semakin nyata. Ungkapan “ Ia membawa pula Anak- Nya yang sulung kedunia ” menubuatkan kedatangan kembali memerintah di bumi. Inilah saat semua malaikat harus menyembah, mengakui posisi Anak sebagia Raja.
4.      Anak Allah yang Rajani Pemerintahan- Nya kekal ( 1: 7- 12 )
Kekekalan pemerintahan Anak ini dikontraskan dengan kesementaraan malaikat Maz 104: 4 digunakan untuk melukiskan kesementaraan malaikat. Dalam melaksanakan tugasnya mereka dianggap sering menyatu dengan angin dan api, sebaliknya Anak, tahtaNya kekal ay 8. Kutipan yang dipilih diambilnya dari Maz 45: 6- 7. Penulis juga menyebutnya, sifat dasar pemerintahan Anak ditandai dengan kebenaran dan membenci kejahatan. Ciri ini dipakai untyuk menunjukkan sifat ketaatan Kristus selagi Ia melayani di bumi (band Ibr 3: 1- 2 ; 5: 7, 8 ; 7: 26 ; 9: 14). Atas dasar itu raja ini berhak untuk menikmati sukacita tertinggi dalam pemerintahan- Nya.
5.      Anak Allah yang Rajani akan memperoleh kemenangan mutlak atas musuh- musuh- Nya (1: 13- 14)
Dalam menyimpulkan uraianya, penulis mengambil Maz 110 sebagai kutipan terakhir dalam rangkaian ini. Penulis menggunakan Mazmur ini lebih banyak dalam usahanya menjelaskan peran Kristus sebagai Imam Besar dalam aturan Melkisedek. Dalam ayat 1 Mazmur tersebut, menegaskan kemenangan mutlak Anak itu atas musuh- musuh- Nya. Kemenangan itu suatu kepastian, sebab tahta- Nya akan tetap (1: 8). Kebalikkannya, para malaikat hanyalah akan bertindak sebagai “palayan” orang yang harus diselamatkan. Kata “keselamatan” di sini digunakan penulis dengan pengertian khas PL “Soteria” menunjuk kepada pembebasan umat dari musuh mereka sehingga mereka dapat menikmati berkat- berkat Allah (band Maz 3: 2, 8; 18: 2; 35: 3; 37: 39; 71: 15; 118: 14- 15, 21; 132: 16). Gagasan ini sesuai benar dengan tema kemenangan mutlak Anak Allah atas musuh- musuh- Nya yang baru disebut.

Garis besar Pasal 4-6
1.      Penghiburan 4:1-10
2.      Seruan-seruan 4: 11-13
3.      Pengertian Imam Besar Kita (4:14-16)
4.      Peringatan Bahaya Ketidak dewasaan (Ibrani 4:14-6:20):
5.       Masalah Kerohanian (5:11-14)
6.       Kebenaran Rohani (6:1-8)

Penghiburan (4:1-10)
Janji masuk kedalam perhentian(1-2)
4:3 Sebagian ciptaan adalah hidup berkualitas yang disukai Tuhan
4:8 Sisa yang diberikan Yosua hanya contoh. Pemenuhannya tetap ada.
4:9 Hidup selanjutnya:
(1) disediakan Tuhan.
(2) tersedia sekarang.
(3) bisa masuk melalui iman.
Ketidaktaatan dan ketidakpercayaan akan menghancurkan kita (4:11).
Seruan  4: 11-13
Tuhan memberikan kita sesuatu untuk menyelidiki hati kita.
 (1) Firman Tuhan (4:12-13). Yang hidup, tajam, menegur. Itu bisa memotong pengerasan yang terjadi dimana tidak ada yang bisa.
(2) Tuhan sendiri (4:13). “MataNya mengawasi jalan manusia, dan dia melihat semua yang dilakukannya.”

Pengertian Imam Besar Kita (4:14-16)
a. Dimana Dia—KedudukanNya—“melintasi semua langit.”
b. Siapa Dia—PribadiNya—“Yesus, Anak Allah.”
c. Apa Dia—KarakterNya—“tanpa dosa.”
d. Apa Tindakan Dia—KaryaNya—“‘merasakan kelemahan-kelemahan kita.” Dia memberikan rahmat dan kasih karunia bagi yang percaya -imam.

Anak adalah Imam Sejati (5:1-10)
a. Natur seorang Imam (5:1-4)
(1) Dia harus seorang manusia (5:1-2)
(2) Dia harus mempersembahkan korban (5:3)
(3) Dia harus dipanggil oleh Tuhan (5:4)
b. Anak Memenuhi semua hal diatas (5:5-10)
Karena Anak memenuhi semuanya, tidak ada penengah lain dibutuhkan. TIdak ada imam besar lain. Kita hanya punya satu imam besar. Itu bukan manusia dunia yang melayani dalam tabernakel dunia; itu kekal, sang Anak yang sempurna melayani disurga.

 Masalah Kerohanian (5:11-14)
5:11 – Masalah dalam pendengarnya adalah mereka telah “menjadi” pendengar yang lamban. Mereka dulu tidak begitu.
5:12 – Mereka telah lama jadi orang percaya, dan jika dihitung dari saat mereka percaya, mereka seharusnya sudah diajar di Institut Alkitab Yerusalem, tapi mereka masih diajar di kursus untuk pemula.
5:13 – Ini menjelaskan kenapa mereka tetap seperti anak-anak. Mereka gagal menggunakan pengetahuan yang mereka dapat mengenai praktek kehidupan Kristen, Prinsip hidup Kristen yang luar biasa itu harus “digunakan atau hilang”. Orang-orang ini tahu kalau Kristus merupakan pemenuhan korban PL dan korban sudah dipenuhi sekali selamanya melalui pengorbananNya; tapi mereka tetap tidak mengerti kenapa mereka tidak boleh pergi kembali kebait untuk mempersembahkan korban. Masalah mereka bukan terhadap pengetahuan, tapi masalah menggunakan pengetahuan itu dalam situasi hidup untuk membedakan mana yang salah dan benar.
5:14 – Orang yang dewasa mampu melakukan lebih dari fakta. Mereka bisa menghubungkan pengajaran dengan pengalaman. Kedewasaan itu dalam hidup orang Kristen hanya pengetahuan seperti itu, tapi kemampuan menggunakan pengetahuan itu untuk mengatasi situasi dan masalah dikehidupan sehari-hari.
Kebenaran Rohani (6:1-8)
a. Kebutuhan untuk Terus Maju (6:1-3)
            Perhatikan hal ini dalam kerangka perkataan dalam 5:11-14. Pasal ini dimulai dengan kata “sebab itu.” Sekarang, tiap kali anda melihat kata “sebab itu” atau “maka dari itu” berhenti dan lihat sebelumnya. Itu berasal dari sebelumnya. Dalam kerangka fakta sebelumnya. Inilah tindakan yang harus dilakukan..
6:1 – Kamu orang percaya yang belum dewasa perlu meninggalkan pengajaran awal dan menuju kepada kedewasaan. Tidak ada yang salah dengan pengajaran awal untuk anak kecil, tapi ada yang salah kalau orang dewasa yang sudah melalui pengajaran itu terus diajar itu. “Kesempurnaan” merupakan kata untuk kedewasaan. Tidak yang salah seorang bayi disuapi tapi ada yang salah jika dari tahun ketahun anda masih membutuhkan orang lain memberi makan anda.
6:1-2 – Ada 6 pengajaran awal yang harus mereka tinggalkan. Tidak ada yang salah dengan keenam hal itu, karena itu merupakan pengajaran penting pertama para rasul setelah pentakosta. Fondasinya baik, tapi jangan terus membangun fondasi—anda harus terus.
6:3 - “Dan menjadi dewasa ini harus kita lakukan jika Allah mengijinkannya.” Ini sangat penting. Anda tidak bisa memaksakan kedewasaan. Bapa ingin anaknya untuk dewasa; dan ini menunjukan kesalahan ada dalam kita bukan Tuhan, jika kita tidak menjadi dewasa. Tapi kita tidak tahu berapa banya waktu yang tersisa
Ibrani 7:1-3 => Raja yang sejati dan imam yang sejati
-          Manusia mencari damai dalam pelarian
-          Manusia mencari damai dengan jalan menghindari sesuatu
-          Manusia mencari damai dengan jalan kompromi
-          Manusia mencari damai dengan jalan kebenaran
Arti Melkisedek menurut nama adalah Raja Kebenaran, menurut kerajaan adalah Raja Damai.
Ibrani 7:4-10 => Kebebasan Melkisedek
Keunggulan Melkisedek dari pada imamat yang biasa, ada lima perbedaannya Melkisedek dengan imam Lewi.
1.      Lewi menerima 1/10 dari suku yang lain, Melkisedek menerima 1/10 dari Abraham , meskipun Melkisedek bukan dari Lewi.
2.      Orang Lewi mendapat 1/10 dari saudara sebangsa, Melkisedek tidak.
3.      Orang Lewi akan mati, Melkisedek hidup selamanya.
4.      Melkisedek mendapat 1/10 dari Lewi , karena Lewi termasuk keturunan Abraham (Lewi terhisap kepada Abraham).
Ibrani 7:11-19 => Imam yang baru dan jalan yang baru.
Yesus dapat melakukan hal yang tidak dapat dilakukan imamat yang lama. Yesus menjawab rasa takut dengan Allah dan dosa sudah ditaklukkan.
Ibrani 7:20-25 => Imamat yang lebih besar
1.      Lembaga imamat menurut peraturan Melkisedek ditetapkan dengan sumpah Allah, sedang imamat biasa tidak (Mazmur 110:4) maka Yesus adalah jaminan untuk perjanjian yang lebih kuat. Ada perjanjian yang sudah lama antara Allah dan Israel (Keluaran 24:1-8), tetapi Yesus adalah jaminan bagi perjanjian yang baru dan lebih baik, yang memberikan kepastian.
2.      Keimamatan Yesus tidak dapat beralih kepada orang lain, aparabatos yang artinya tidak dapat diganggu gugat.
Ibrani  7:26-28 => Imam Besar yang kita perlukan
1.      Yesus itu suci (Hosion) => Kis 2:27, Kis 13:35
-Seorang yang penuh kesetiaan melakukan kewajibannya dihadapan Allah.
2.      Yesus tanpa pernah salah (Akakos)
–Seorang yang bersih dari kejahatan, tinggal hal yang baik.
3.      Yesus itu tanpa noda (Amiatos)
–Seorang yang sama sekali bebas dari noda-noda yang menghalangi untuk datang kepada Allah.
4.      Yesus terpisah dari orang-orang berdosa.
5.      Yesus lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga menunjukkan kesempurnaan ke-Allahan-Nya.
Ibrani 8:1-6 => Jalan ke kenyataan.
-          Yesus duduk disebelah kanan tahta Yang Mahabesar di sorga itu adalah bukti akhir tentang kemuliaanNya.
-          Yesus adalah pelayan ibadah di tempat kudus dan itu bukti pelayananNya.
-          Yesus Sang Pengantara (mesites) yang artinya seseorang yang berdiri di tengah, diantara dua orang yang membuat mereka berdua dapat saling bertemu.
Ibrani 8:7-13 => Hubungan yang baru
-          Membicarakan kata perjanjian (diatheke) artinya suatu wasiat, semua syarat ditentukan oleh orang yang meninggalkan warisan. Hubungan itu diberikan kepada kita hanya oleh prakarsa dan anugerah Allah saja.
-          Tanda-tanda perjanjian yang baru ini adalah:
*Menggunkan kainos -> berarti baru menurut sudut waktu dan mutu, perjanjian yang dibuat Yesus adalah baru dalam mutunya dan secara sempurna meniadakan yang lama.
*Perjanjian itu baru dalam hal jangkauannya, yaitu Israel dan Yehuda tidak ada perpecahan tetapi menjadi satu.
*Perjanjian baru itu dalam segi universalitas, baik kecil-besar, pintar-bodoh, dll.
*Perjanjian baru tertulis dalam hati dan pikiran manusia sedang yang lama dengan undang-undang. Sehingga berarti kita mengasihi Allah bukan karena takut hukuman, tetapi karena kasih yang tulus kepada Allah.
*Perjanjian baru memberlakukan pengampunan dan melupakan dosa.
Ibrani 9:1-5 => Kemuliaan kemah Allah
-          Dalam perjanjian lama bagi rakyat biasa ada banyak penghalan untuk datang kepada Allah, Yesus Kristuslah yang menyingkirkan penghalang itu dan membuka lebar jalan menuju kepada Allah bagi setiap orang.
Ibrani 9:6-10 => Satu-satunya pintu masuk menuju Allah
-          Semua hal yang dilakukan oleh imam besar dalam perjanjian lama hanyalah sebagai tiruan yang kabur dari pengorbanan yang nyata sejati. Suatu bayangan dari pengorbanan yang sesungguhnya yaitu pengorbanan Kristus. Satu satunya korban yang dapat membuka jalan sampai kepada Allah untuk semua manusia adalah Yesus Kristus.
Ibrani 9:11-14 => Korban yang membuka jalan sampai kepada Allah
-          Korban-korban yang lazim dilakukan oleh bangsa yahudi di jelaskan, tetapi korban yang dilakukan Yesus jauh lebih besar dan lebih efektif. Ibadah di kemah lama itu dimaksudkan membawa manusia kepada Allah, namun hasilnya adalah bayangan yang  tidak sempurna sebaliknya
tidak sempurna. Sebaliknya kehadiran Yesus benar-benar membawa manusia kepada Allah. Karena didalam Dia Allah memasuki dunia dan melihat Yesus sama dengan melihat Allah.
·         Keuanggulan korban Kristus:
-Korban Kristus mentahirkan badan dan nyawa, korban hewan hanya mentahirkan badan saja.
-Korban Kristus membawa kepada penebusan abadi dari dosa abadi.
-Korban Kristus memungkinkan manusia dari hamba dosa menjadi hamba Allah sejati.
            * Westcott berkata 4 perbedaan korban Kristus dengan yang lain:
            - Korban Kristus adalah sukarela.
            - Korban Kristus adalah spontan.
            - Korban Kristus adalah rasional.
            - Korban Kristus adalah moral.
Ibrani 9:15-22 => Satu-satunya jalan untuk menghapus dosa.
·         Persekutuan baru dengan Allah harus menyangkut dan berisi kematian Yesus karena:
*Kata diatheke (wasiat) tidak dapat berlaku jika terlepas dari kematian Yesus.
*Imamat 17:11, pengampunan adalah suatu yang mahal harganya, dan hanya Allah sendirilah yang dapat membayar harga itu. Dimana ada pengampunan, disitu harus ada orang yang disalibkan.
Ibrani 9:23-28 => Penyucian yang sempurna
            Ibadat dalam dunia ini adalah tiruan yang kabur dan tak sempurna dari ibadat yang sebenarnya nyata dan sejati. Keunggulan korban Kristus:
1.      Kristus memasuki tempat suci yang bukan buatan tangan manusia, bukan hanya anggota tetapi hubungan akrab dengan Allah.
2.      Kristus masuk kehadirat Allah bukan untuk kepentingan sendiri.
3.      Pengorbanan Kristus tidak perlu diulangi lagi.
Penulis Ibrani menarik garis sejajar antara hidup manusia dan hidup Kristus.[4]

Pasal 13:
Dalam pasal ini mengajukan beberapa pemahaman dengan sanngat. Ia mengajukan permohonan mengenai saksi-saksi dan perbedaan (1-4); mengenai ajaran dan siasat Tuhan(5-14) mengenai nasihat(15-17); mengenai perbedaan yang besar(18-24); mengenai peringatan yang terakhir(25-29)
-           saksi-saksi bagaikan awan rupanya. Paulus telah mengemukakan Iman dan perbuatan saksi-saksi Iman zaman dahulu, lalu ia kembali kepada pembahasan yang dimulai dalam pasal 10 kata “karena” menghubungkan ayat ini dengan fasal 11, khususnya dengan 11:39-40. Ini berate bahwa daftar saksi-saksi iman itu tidak genap tanpa orang-orang saleh dari perjanjian baru. Paulus hendak menekankan nasihatnya supaya tambah samapi pada kesudahanya. Lalu ia menggambarkan dirinya dan pembaca. Pembaca surat ini sebagai orang-orang yang sedang berlomba di suatu stasion, dimana ribuan orang duduk berkumpul bagaikan awan rupanya.
-          Perlombaan Kristen
Marilah kita menangfgalkan semua beban dan dosa yang begitu mrintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan, yang diwajibkan bagi kita “orang yang berlomba tentu tidak memakai sarung “semua bebas” tidak sama artinya dengan dosa. Hal yang baik mungkin menjadi halangan bagi kemajuan Rohani dan dengan demikian menjadi suatu “beban” untuk kita, misalnya nafsu makan, penyerahan kepada suatu maksud atau tujuan yang meskipoun baik, tetapi membalikan hati kita dari pada Tuhan.
-          Dosa yang begitu merintangi kita
Yang dimaksud paulus bukanlah suatu dosa yang khusus yang merintangi kita, melainkan dosa pada umumnya, dosa yang dilakukan sehingga merintangi kita. Suatu dosa mungkin menyelimuti sehingga merintangi kita. Dr. Robertson berkata “bagi orang Kristen ibrani dosa itu adalah dosa murtat, tetapi bagi kita dosa itu mungkin dosa yang lain, dosa yang sering kita hadapi. Dosa itu menyatakan dirinya dengan sekedar tabiat dan kebiasaan kita, dan kita disuruh menanggalkan dosa itu. Hal menanggalkan dosa dilakukan oleh Iman kepada Kristus dan kuasa Roh Kudus, waktu kita sungguh-sungguh merindukan pelepasan dari dosa dan menyerahkan diri kepada Tuhan agar Ia melepaskan kita daripada dosa itu.














[2] Witness Lee ( Pelajaran Hayat IBRANI 1 )
[3] J. Wesley Brill. Tafsiran Surat Ibrani. ( Yayasan Kalam Hidup, Bandung 40112 )
[4] William Barclay, BPK, cetakan 2006, Jakarta