Senin, 08 Agustus 2016

KONSEP ANTIKRIS MENURUT TEOLOGI YOHANES

KONSEP ANTIKRIS MENURUT TEOLOGI YOHANES




BAB I
PENDAHULUAN
Istilah AntiKristus atau Antikris sebagai orang Kristen seringlah kita mendengarnya. Istilah antiKris terdapat hanya dalam Surat-surat Yohanes. Surat ini ada karena adanya guru-guru palsu yang menyesatkan dengan ajaran-ajarannya. Beberapa orang, yang dahulu merupakan bagian dari sidang pembaca, kini sudah meninggalkan persekutuan jemaat (1Yoh 2:19). Apakah ajaran sesat atau antikris yang di maksud Yohanes?
Persoalan yang paling menonjol yang melatarbelakangi penulisan surat ini ialah ajaran palsu mengenai keselamatan dalam Kristus dan cara bekerjanya di dalam diri orang percaya. Beberapa orang, yang dahulu merupakan bagian dari sidang pembaca, kini sudah meninggalkan persekutuan jemaat (#/TB 1Yoh 2:19*), tetapi hasil dari ajaran palsu mereka masih memutarbalikkan Injil mengenai bagaimana mereka bisa "mengetahui" bahwa mereka mempunyai hidup kekal. Dari segi doktrin, ajaran sesat mereka menyangkal bahwa Yesus itulah Kristus (#/TB 1Yoh 2:22; bd. #/TB 1Yoh 5:1*) atau bahwa Kristus menjelma menjadi manusia (#/TB 1Yoh 4:2-3*); dari segi etika, mereka mengajarkan bahwa menaati perintah Kristus (#/TB 1Yoh 2:3-4; 5:3*) dan hidup kudus dan terpisah dari dosa (#/TB 1Yoh 3:7-12) dan dari dunia (#/TB 1Yoh 2:15-17*) tidak diperlukan untuk iman yang menyelamatkan (bd. #/TB 1Yoh 1:6; 5:4-5*).



BAB II
PEMBAHASAN

Kata "antikristus" berasal dari bahasa asli Yunani Koine "ἀντίχριστος" antikristos. Dimana kata tersebut terdiri dari dua akar kata αντί + Χριστός (anti + Kristos). "αντί" (anti) berarti mengganti, melawan atau mengambil tempat orang lain. dan "Χριστός" (Kristos) berarti Kristus, yang dalam bahasa Yunani sama dengan "Mesias" yang berarti "yang diurapi", dan mengacu kepada Yesus dari Nazaret. Jadi antikristus berarti melawan, mengganti, atau mengambil tempat Kristus. Bisa juga berarti Kristus palsu atau Kristus gadungan.
Kata "antikristus" hanya ditemukan empat kali, semuanya dalam tulisan Rasul Yohanes
§  1 Yohanes 2:18-19 Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.
§  1 Yohanes 2:22 Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.
§  1 Yohanes 4:3 dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.
§  2 Yohanes 1:7 Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.

Menurut Yohanes maka Antikristus adalah :
1.     Seolah-olah berasal dari kekristenan sendiri, namun sesungguhnya tidak (Yohanes memakai kalimat "memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita" pada 1 Yoh 2:19)
2.     Menyangkal Yesus sebagai Kristus. (arti Kristus adalah "yang diurapi" atau Mesias dan juga menyangkal Allah yang mengutusnya.
3.     Tidak berasal dari Allah atau tidak percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah dan tidak menuruti perintah-Nya (1 Yoh. 3:23-24)
4.     Tidak mengakui Yesus telah datang sebagai manusia (2 Yohanes 1:7 ).[1]
SIAPAKAH ANTI KRISTUS?      
Sepanjang zaman, beraneka ragam penafsiran dan tuduhan yang ditujukan kepada seseorang bahwa yang bersangkutan adalah Antikristus, terkadang dengan menghitung angka 666 dari namanya.  Wahyu 13:18 "Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam."            

ANTIKRISTUS 1 Yoh. (2:18)
Kata ini hanya terdapat dalam 1Yoh. (2:18,22; 4:3), dan 2Yoh. 7, yang berarti lawan-lawan jemaat, meskipun gagasan mengenai musuh utama Kristus juga tampak di tempat lain, misalnya dalam 2Tes. 2:1-12, di mana 'manusia durhaka' (AV: 'that man of sin'), 'pendurhaka' (NRSV: 'the lawless one') pasti datang sebelum *parousia terjadi. Dalam hal ini orang tersebut diidentifikasi sebagai Kaisar Romawi, atau salah seorang kaisar (*Nero?). Di balik dimensi historis, antikris adalah lambang pemberontakan melawan Kristus yang terus berlangsung hingga *penghakiman terakhir -- meskipun pemberontakan itu mengejawantah di dalam pribadi-pribadi historis tertentu, seperti *Yudas Iskariot.
Istilah antikristus terdapat hanya dalam Surat-surat Yohanes (1 Yohanes 2:18, 22; 4:3; 2 Yoh 1: 7), tapi pemikiran di belakangnya luas sekali. Kata anti menandakan perlawanan, bukan melulu tuntutan palsu: antikristus menentang Kristus, bukan menuntut dirinya adalah Kristus. Sebab jika demikian halnya, maka kita dapat masukkan di bawah judul 'antikristus' beberapa bagian PL, seperti Daniel 7:7 dab, 21 dab, serta bagian-bagian 2 Tesalonika dan Wahyu, yang semuanya mengenai perlawanan habis-habisan dari semua kekuatan jahat yang akan dihadapi Kristus pada hari-hari akhir.
Pengertian ini menurut Yohanes sudah dikenal ('dan seperti yg telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang', 1 Yoh 2:18). Meskipun ia tidak membantah bahwa pada akhir zaman akan muncul suatu makhluk jahat yg dinamakan 'antikristus', namun Yohanes berkeras bahwa ada ciri khas antikristus, dan bahwa itu memang sudah ada. Ia berbicara mengenai 'banyak antikristus yang telah bangkit' (1 Yoh 2:18). Ia menjelaskan arti istilah 'antikristus' dengan mengatakan 'dia itu adalah antikristus, yg menyangkal baik Bapak maupun Anak' (1 Yoh 2:22). Hal ini menjadi lebih jelas dalam 1 Yoh 4:3 dan 2 Yoh 1: 7, di mana penyangkalan yg dimaksud dipertajam menjadi 'menyangkal bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia'.
Asasi bagi Yohanes bahwa dalam Yesus Kristus, Allah telah bertindak untuk keselamatan manusia (1 Yoh 4:9 dst). Bila manusia menyangkal ini, maka bukan saja ia salah dalam nalar ajaran itu, tapi ia telah merusak asas iman Kristen. Ia melakukan pekerjaan Iblis dengan menentang pekerjaan Allah. Pada akhir zaman penentangan inilah pekerjaan khusus dari suatu penjelmaan kejahatan yang dahsyat. Mereka kini sedikitnya berbuat hal yg sama, dan dengan demikian menunjukkan bahwa mereka adalah kaki tangan Iblis.
Paulus tidak memakai istilah 'antikristus', tapi menulis dalam 2 Tes 2:3 dab mengenai 'manusia durhaka', yang jelas menunjuk kepada makhluk yg sama. Ciri khas makhluk itu ialah 'ia melawan dan meninggikan diri di atas segala yg disebut atau yg disembah sebagai Allah', dan menyatakan dirinya sebagai Allah (ay 4). Ia bukan Iblis, tapi kedatangannya adalah upaya Iblis (ay 9). Masih ada kesulitan dalam ayat-ayat ini yg belum jelas, khususnya soal siapakah manusia durhaka itu, masih diperdebatkan. Tapi untuk tujuan kita, ajarannya cukup jelas. Paulus memikirkan usaha Iblis yg paling dahsyat, bukan pada waktu lampau, tapi pada waktu akan datang. Ia memikirkan bukan dunia yang lambat laun berkembang menjadi sempurna, tapi dunia dalam mana kejahatan terus meningkat hingga akhir zaman. Lalu nanti kejahatan akan melancarkan perlawanannya yg paling dahsyat terhadap kebajikan. Penentangan ini akan dipimpin oleh suatu makhluk aneh yang kekuatannya dari Iblis, yang merupakan alat Iblis dalam kemuncak penentangannya terhadap Allah. Paulus yakin apa akan terjadi. Kristus akan membunuh pendurhaka 'dengan nafas mulut-Nya' (ay 8). Penentangan Iblis yg dahsyat dan terakhir akan dibasmi sampai tuntas.
Itulah sekurang-kurangnya arti dari beberapa gambaran dalam Wahyu. Hampir semua pakar yang menafsir kitab ini sependapat, bahwa beberapa dari penglihatan dalam Wahyu menunjuk kepada perjuangan akhir dari kekuatan-kekuatan jahat menentang Kristus. Kadang-kadang perlambangan itu dengan terus terang menunjuk kepada Iblis. Justru 'naga merah yg besar' disamakan dengan Iblis, Wahyu 12:3,9. Tapi 'binatang' itu dalam Wahyu 11:7 bukanlah Iblis, meskipun erat hubungannya dengan Iblis, seperti diperlihatkan oleh pekerjaannya. Makhluk-makhluk lain yg serupa muncul pula (Wahyu 13:11 dab). Tidak ada maksud untuk menyamakan salah satu dari makhluk itu dengan antikristus, tapi hanya untuk menjelaskan bahwa Wahyu juga mengetahui tentang makhluk pada akhir zaman yg akan diberi kuasa oleh Iblis, untuk menentang Kristus. Hal ini dapat dikatakan ciri khas pandangan Kristen tentang hari-hari akhir.

Apa yang dinamakan Antikris  ?   
1 Yohanes 2:22,         
"Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.”

2 Yohanes 1: 7,          
"Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus datang sebagai daging. Itu adalah si penyesat dan antikristus.”

Disini ada dua masalah pokok, dengan  apa yang dinamakan Antikristus.
Pertama : Orang yang tidak mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan.
Tuduhan Yesus supaya Yesus dihukum, adalah karena Yesus mengatakan diriNya adalah Mesias.           
Kedua : Orang yang tidak mengakui bahwa Yesus datang sebagai daging, sebagai roti hidup untuk dimakan, dimana pada zaman Musa digambarkan sebagai Manna.
Persoalan makan daging ini, dari semula sudah menjadi bahan pertentangan, sehingga banyak murid-murid Yesus yang meninggalkan Yesus.


BAB III
KESIMPULAN
Umat Kristiani mengimani bahwa Yesus memiliki 2 natur dalam 1 pribadi yaitu natur Allah dan natur manusia, itu sebabnya umat Kristiani sering menyatakan bahwa Yesus adalah Allah sejati dan manusia sejati. Namun sekali lagi,manusia sulit untuk menerima hal ini, kami akui bahwa Dwi natur Yesus adalah misteri karena memang bersifat Supranatural. Itu sebabnya manusia sulit untuk memahami hal tersebut sehingga di dalam sejarah timbul berbagai ajaran yg mengabaikan salah satu natur-Nya. Ada ajaran yg menekankan natur Ilahi dari Yesus namun menyangkal natur manusia-Nya. Demikian juga sebaliknya ada ajaran yg menekankan natur manusia Yesus namun menyangkal natur Ilahi-Nya. Kedua ajaran tersebut tidak sesuai dengan ajaran Alkitab yang mengajarkan dwinatur dalam 1 pribadi Yesus. Demikian juga juga antiKris yang tidak mengakui Yesus sebagai Allah yang sejati dan manusia sejati, sehingga Yohanes memberikan peringatan kepada jemaat Kristen untuk berhati-hati terhadap hal tersebut.

Pengangkatan Gereja

PENGANGKATAN GEREJA (ESKATOLOGI) 

BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
     Setiap sistem teologi memiliki eskatologinya sendiri. Bila ada permulaan pasti ada pula pengakhirannya, bukan dalam erti bahawa alam semesta tidak akan ada lagi seperti sebelum diciptakan, namun dalam erti adanya pergantian dari bersifat sementara kepada yang bersifat kekal.[1]    Ajaran Alkitab tentang eskatologi (ajaran tentang Akhir Zaman) tidak hanya mempedulikan nasib orang secara perseorangan, tapi juga sejarah manusia. Menurut Alkitab, Allah tidak hanya menyatakan diri-Nya melalui orang-orang yang mendapat ilham, tapi juga dalam dan melalui peristiwa-peristiwa yang membebaskan umat-Nya, dan peristiwa yang terpenting dari semuanya ialah kedatangan Anak-Nya Yesus Kristus.
Selanjutnya, isi dari penyataan ini tidak terbatas pada kebenaran-kebenaran mengenai sifat dan tujuan Allah, tapi mencakup juga tindakan-tindakan pelepasan umat-Nya dan firman yang diilhamkan yang menafsirkan makna tindakan-tindakan tersebut. Kerana Allah ialah Tuhan atas segala peristiwa sejarah, maka penggenapan dari karya pelepasan oleh Allah mencakup juga pelepasan manusia dari sejarah, ertinya, perubahan tata tertib dunia ini menjadi suatu dunia yang baru.
Eskatologi dapat dibahagi menjadi dua bahagian yang luas: eskatologi peribadi dan eskatologi umum. Eskatologi umum membahas peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, mulai dari kedatangan Kristus yang kedua kali sampai penciptaan langit baru dan bumi baru. Eskatologi Peribadi membahas apa yang dialami oleh seorang percaya sejak ia mengalami kematian jasmani sampai ia menerima tubuh kebangkitannya. [2]

BAB II
PENGANGKATAN GEREJA
"(Yoh.6:39,40,44,54; 11:24)”

              Kata Eskatologi berasal dari bahasa Yunani : eskhatos yang bererti akhir zaman, yang hampir sama dengan bahasa Inggris "escalate" (terangkat) dan digunakan dalam istilah Theologi untuk menunjuk masa "pengangkatan orang kudus" pada akhir zaman. Lima kali dalam Injil Yohanes, Yesus menggunakan kata ini dalam hubungan dengan kebangkitan orang-orang benar yang telah meninggal: "... Aku akan membangkitkannya pada akhir zaman"(Yoh.6:39,40,44,54; 11:24). Dalam konteks ini, "eschatos" menunjuk pada saat KedatanganNya Kedua kali ke dunia. "... pada waktu bunyi nafiri yang terakhir ... orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tak dapat binasa dan kita semua akan diubah" (1 Kor 15:52). "Maka Tuhan sendiri akan turun dari Surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit" (1Tes. 4:16). Dalam konteks yang lebih luas, bererti "hari-hari terakhir" dimulai pada saat Pentakosta pada tahun 33 Masehi. Ramai orang yakin bahawa "hari-hari terakhir" akan berakhir saat Yesus datang kembali ke dunia. Jadi Eskatologi adalah ilmu theologi yang berbicara tentang hal-hal yang bertalian dengan akhir zaman.
 Dalam makalah ini, lebih difokuskan tentang sudut pandang teologi Yohanes mengenai eskatologi atau keadaan-keadaan yang terjadi pada akhir zaman. Beberapa hal yang dapat dilihat mengenai eskatologi (hal-hal terakhir) dari teologi Yohanes adalah seperti berikut:-

01.  Pengangkatan.
02.  Kesengsaraan.
03.  Antikristus.
04.  Kedatangan Kristus yang kedua.
05.  Kerajaan Milenial dan kekekalan.

Pengangkatan.
     Meskipun Yohanes tidak memberikan pernyataan secara terus terang Paulus tentang pengangkatan, tanpa diragukan Yohanes juga menunjuk pada pengangkatan dalam Yohanes 14: 1-3. Pengangkatan berkaitan dengan gereja, dan Yesus berbicara pada kedua belas murid-Nya yang akan memulai jemaah mula-mula di Kisah Para Rasul 2. Oleh kerana para murid sedang berduka akan kepergian Yesus (Yohanes 14), Ia menguatkan  mereka dengan mengingatkan mereka ( sebagai gereja yang masih kecil ) bahwa Ia pergi untuk menyediakan tempa tinggal bagi mereka di rumah Bapa-Nya. Ia berjanji untuk kembali dan membawa mereka kepada-Nya (Yoh. 14: 3). Hal itu harus difahami sebagai paralel dengan pernyataan Paulus di 1 Tesalonika 4: 13-18.

Kesengsaraan.
     Yohanes memberikan liputan yang luas tentang masa kesengsaraan, serta merinci apa yang akan terjadi di Wahyu 6-19. Ketujuh meterai ini akan dibukakan di dunia pada awal kesengsaraan (Why. 6: 1- 8:1), yang akan membawa kemenangan bagi binatang buas itu (6:1-2), perang (6:3-4), kelaparan (6:5-6), kematian (6:7-8), mati syahid (6:9-11), dan ledakan di langit dan di bumi (6: 12-17). Meterai-meterai itu kelihatannya akan berlanjut sampai akhir masa kesengsaraan. Meterai ketujuh mengawali sangkakala ketujuh (8:2-11:19). Pada waktu bunyi sangkakala itu, maka persediaan makanan dan oksigen di bumi akan hilang (8:2-6), sepertiga dari kehidupan di laut akan mati (8:7), sumber air akan terkena polusi (8: 10-11), benda-benda di langit akan menjadi gelap (8:12-13), manusia akan sangat menderita dan ketakutan (9:1-12), dan sepertiga dari manusia akan terbunuh (9:13-21).
Sangkakala yang ketujuh akan mengawali cawan penghakiman (11:15-19; 15:1 – 16:21), mengakibatkan luka-luka yang menyakitkan (16:1-2), kematian dari kehidupan di laut (16:3), sungai menjadi darah (16:4-7), manusia mati kerana kepanasan (16:8-9), kegelapan (16:10-11), dilepaskannya tentera dari timur yang kuat untuk mengakiri peperangan (16:12-16), dan gempa bumi yang dahsyat, menghancurkan kota-kota dan bangsa-bangsa (16:17-21). Baik agama Babel (17:1-18), maupun ekonomi Babel (18:1-24) akan dihancurkan. Masa kesengsaraan berpuncak pada kembalinya Kristus, di mana Ia kan menaklukkan semua bangsa di dunia (19:11-21).

Antikristus.
            Yohanes menggunakan istilah antikristus untuk menjabarkan mereka yang pada zamannya mendirikan doktrin yang salah tentang Kristus (1 Yoh. 2:18, 22; 4:3; 2Yoh. 7). Natur dari ibadat ini adalah menyangkali kemanusiaan Yesus ( 2 Yoh. 7); Kristus hanya tampil seperti hantu; Ia tidak benar-benar mengambil rupa manusia. Yohanes mendeklarasikan bahawa mereka, penyangkal Yesus yang datang dalam daging adalah antikristus. Jadi, Yohanes menggunakan istilah itu untuk menunjukkan pada mereka yang menyangkali doktrin yang benar tentang Kristus.
Yohanes menyebut peribadi yang menyangkali Kristus sebagai Binatang Buas (Why. 11:7; 13:1, 12,14,15). Yohanes menjabarkan Binatang Buas ini sebagai “Binatang Pertama” (berlawanan dengan nabi palsu yang mendukung Binatang Buas pertama ini tetapi dikenal sebagai Binatang kedua [“ binatang yang lain”, 13:11]). Binatang yang pertama adalah penguasa politik (13: 1-10) yang muncul dalam bentuk akhir sebagai penguasa kafir dan kuasanya berasal dari setan (13:2), ia menerima sembah dan menghujat nama Allah selama tiga setengah tahun (13:4-6), ia menganiaya orang percaya (13:7), dan menguasai dunia (13:8). Binatang pertama didukung oleh Binatang kedua yang adalah nabi palsu dan memaksa manusia untuk menyembah Binatang Pertama (13:11-12); ia menipu manusia melalui kemampuannya untuk mempertunjukkan tanda-tanda (13:14); ia membatasi perdagangan hanya bagi mereka yang telah menerima tandanya (13:16-17). Pada kedatangan Yesus Kristus yang kedua, baik Binatang Pertama dan Binatang Kedua akan dilemparkan ke dalam lautan api (19:20).

Kedatangan Kristus yang Kedua.
            Pada akhir dari masa kesengsaraan, Yohanes menggambarkan kembalinya Kristus dengan kemenangan bersama pengantin perempuan-Nya, iaitu gereja (Why. 19:6-8). Pernikahan Kristus dengan gereja terjadi di syurga pada waktu periode kesengsaraan. Kristus kembali dengan pengantin perempuan-Nya untuk memulai pesta pernikahan, iaitu di kerajaan Milenial yang terjadi di atas bumi (19:9-10). Yohanes menggambarkan kembalinya Kristus sebagai seorang Raja yang menang – Ia memiliki banyak mahkota di atas kepala-Nya (19:12) – Ia menyatakan perang dengan setan, Binatang, dan tentera yang tidak percaya kepada-Nya (19:11, 19). Senjata-Nya adalah kuasa mutlak Firman-Nya (19:13) dengan mana Ia mengalahkan dan menaklukkan bangsa-bangsa (19:15). Ia menghancurkan penguasa bangsa-bangsa dan melemparkan Binatang, nabi palsu (Binatang kedua), dan setan ke laut api selama milenial (19:19 – 20:3). Dengan kemenangan atas musuh-Nya, Kristus mendirikan kerajaan milenial di atas bumi.


Kerajaan Milenial dan Kekekalan.
              Yohanes menjabarkan kebangkitan dari masa kesengsaraan dan orang-orang kudus PL pada akhir masa kesengsaraan (Why. 20: 4-5); mereka adalah bahagian dari “kebangkitan pertama”. Istilah kebangkitan tidak menjabarkan kebangkitan secara umum dari orang percaya, tetapi suatu kebangkitan kepada kehidupan (20:6). Paling tidak ada beberapa tahap dalam kebangkitan yang pertama, iaitu zaman orang-orang kudus dibangkitkan sebelum masa kesengsaraan (1 Tes. 4: 13-18), di mana orang-orang kudus di Perjanjian Lama dan di masa kesengsaraan (Why. 20:4). Orang tidak percaya dibangkitkan pada akhir masa Milenium, di mana akan dilemparkan ke dalam lautan api (Why. 20: 11-15).
            Di Wahyu 21: 1 - 22: 21, Yohanes menjabarkan tentang kekekalan. Yerusalem baru yang Yohanes lihat akan datang dari syurga (Why. 21: 1-8) adalah gereja yang tetap tinggal, iaitu pengantin perempuan (21: 9), tidak diragukan lagi mereka adalah orang yang telah ditebus di segala zaman dalam kekekalan. Yerusalem baru kemungkinan besar berhubungan dengan milenium dan hidup kekal. Tempat  itu adalah tempat tinggal, di mana Kristus telah pergi untuk menyediakan tempat (Yoh. 14:2). “kedua periode itu kekal, bukan sementara, kondisinya adalah seperti itu, baik di kota dan bagi penghuninya. Oleh kerana itu, Yerusalem Baru adalah milenial dan kekal, baik dari segi waktu dan posisi, dan hal itu kondisinya selalu kekal”. Yohanes menjelaskan bagaimana Yerusalem baru itu memberikan persekutuan dengan Allah (22:4), istirehat (14;13), kepenuhan berkat (22:2), sukacita (21:4), pelayanan (22:3), dan ibadah (7:9-12; 19;1).[3]



BAB III
KESIMPULAN
               Bila kita memikirkan rencana dan pemeliharaan Allah terhadap manusia, kita ingin berseru bersama Paulus. “Oh, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” (Roma 11:33). Kita harus memuji Dia kalau kita merenungkan kasih kurnia-Nya terhadap kita yang oleh kasih kurnia itu telah menyelamatkan kita oleh iman (Efesus 2:8). Allah telah “membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di Syurga, agar pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih kurnia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya kepada kita dalam Kristus Yesus” (Efesus 2:6,7).[4]
Dalam keadaan dunia yang huru-hara, rosak dan penuh dengan dosa inilah datang wahyu dari Allah bagi orang-orang di zaman rasul Yohanes mahu pun bagi kita yang hidup pada zaman akhir. Ini adalah kitab yang sangat berharga untuk dipelajari. Penulis Amsal berkata  (I Petrus 1:3-5).  Kita bukan sekadar bertaubat dan diselamatkan, tetapi lebih dari itu, kita mempunyai satu pengharapan. Kalau pengharapan Yahudi ialah datangnya kerajaan yang akan didirikan Mesias atas dunia ini, maka pengharapan kita adalah datangnya kerajaan di mana Yesus Kristus akan memerintah bersama mempelainya; satu kerajaan di mana ada kebenaran dan damai8 sejahtera Allah. Dalam Roma 8:18, Paulus menulis bahawa aniaya dan penderitaan yang kita alami sekarang ini, tidak dapat dibanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.[5] Ada kemuliaan besar yang menanti kita semua di penghujung perjalanan ini yang percaya di dalam nama Tuhan kita, Yesus Kristus.


Daftar kepustakaan

C.Thiessen Henry. Teologi Sistematika (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1997).

Enns, Paul. Buku Pegangan Teologi Jilid-1 (Malang: Departemen Literatur SAAT, 2003).

Pdt. A.H. Mandey.  Kitab Wahyu (Jakarta: Mimery Press, 1999).


[1] Henry C.Thiessen, Teoligi Sistematika (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1997), hal.517
[2] Ibid, hal.519
[3] Paul Enns, Buku Pegangan Teologi Jilid-1(Malang: Departemen Literatur SAAT, 2003), hal.170-172.
[4] Henry C.Thiessen, Op.cit, hal. 624

[5] Pdt. A.H. Mandey,  Kitab Wahyu (Jakarta: Mimery Press, 1999), hal.7-8

LATAR BELAKANG JEMAAT KERETA

LATAR BELAKANG JEMAAT KERETA
Surat Paulus kepada Titus merupakan salah satu surat surat-surat Paulus yang terdapat di dalam Perjanjian Baru. Bersama dengan surat Timotius, surat ini dikategorikan sebagai surat-surat Pastoral. Dikategorikan surat pastoral karena surat-surat ini ditujukan kepada Titus dan Timotius yang menjalankan tugas sebagai seorang pastor. Secara garis besar surat ini berisi petunjuk-petunjuk untuk menjalani hidup sekaligus untuk menanggulangi ajaran sesat. Titus sendiri merupakan teman sekerja Paulus dalam pekerjaannya. Surat ini ditujukan kepada Titus yang merupakan teman sekerja Paulus. Titus merupakan seorang non Yahudi yang menjadi Kristen dan kemudian mengikuti rombongan Paulus. Paulus juga mengutusnya untuk membantu pelayanannya di Korintus. Dalam surat ini, Titus digambarkan sebagai orang yang sangat setia. Oleh karena kesetiaannya, Paulus menaruh kepercayaan yang besar kepada Titus. Dalam perjalanan, Paulus meninggalkan Titus di Kreta dan diberi tugas untuk membina jemaat-jemaat baru di sana. Selain ditujukan kepada Titus, surat ini juga ditujukan kepada semua anggota jemaat.
Titus adalah seorang Kristen pada abad pertama yang mempunyai andil cukup besar dalam memelihara persatuan dan keutuhan dari sidang-sidang jemaat yang telah berdiri.
Adakalanya, ada saja masalah yang timbul di sidang Kristen pada abad pertama. Masalah-masalah ini harus diselesaikan, dan untuk itu, dituntut keberanian dan ketaatan. Salah seorang pria yang berhasil menghadapi lebih dari satu tantangan demikian adalah Titus. Sebagai seorang rekan yang bekerja sama dengan rasul Paulus, ia berupaya sungguh-sungguh membantu orang-orang lain melakukan segala sesuatu menurut cara Yehuwa. Titus benar-benar seorang rekan sekerja yang dapat diandalkan oleh rasul Paulus dalam hal membantu menjaga kebersihan sidang Kristen pada abad pertama. Oleh karena itu, Paulus mengatakan kepada orang-orang Kristen di Korintus bahwa Titus adalah 'rekan sekerja demi mereka'.—2 Korintus 8:23.
            Latar Belakang Masalah Sunat. Titus adalah seorang Yunani yang tidak bersunat. (Galatia 2:3)* Karena Paulus menyebut dia sebagai "anak yang sejati menurut iman yang dimiliki bersama, Titus mungkin adalah salah seorang anak rohani sang rasul. (Titus 1:4; bandingkan 1 Timotius 1:2) Titus menyertai Paulus, Barnabas, dan beberapa rekan lainnya ke Antiokhia, Siria sewaktu mereka pergi ke Yerusalem kira-kira pada tahun 49 M untuk membahas pertanyaan tentang sunat.—Kisah 15:1,2; Galatia 2:1.
Ada pendapat bahwa karena pertobatan orang-orang kafir yang tidak bersunat sedang dibahas di Yerusalem, Titus dibawa serta untuk mempertunjukkan bahwa orang Yahudi dan non-Yahudi dapat memperoleh perkenan Allah tidak soal mereka bersunat atau tidak. Beberapa mantan orang Farisi yang setelah menerima Kekristenan menjadi anggota sidang jemaat di Yerusalem berpendapat bahwa orang-orang Kafir yang bertobat diwajibkan untuk disunat dan menjalankan Hukum, namun argumen ini ditentang. Memaksa Titus dan orang-orang Kafir lainnya untuk disunat sama saja dengan menyangkal bahwa keselamatan bergantung pada kebaikan hati Yehuwa yang tidak selayaknya diterima serta pada iman kepada Yesus Kristus dan bukannya pada perbuatan-perbuatan Hukum. Hal itu juga sama saja dengan menolak bukti bahwa orang-orang Kafir, atau orang-orang dari berbagai bangsa, telah menerima roh kudus Allah.—Kisah 15:5-12.
Titus diutus ke korintus : Ketika masalah sunat selesai, Paulus dan Barnabas diberi wewenang penuh untuk mengabar kepada bangsa-bangsa. Pada waktu yang sama, mereka juga berupaya agar selalu memperhatikan orang-orang miskin. (Galatia 2:9, 10) Sesungguhnya, ketika Titus sekali lagi disebutkan dalam catatan terilham kira-kira enam tahun kemudian, ia berada di Korintus sebagai utusan Paulus untuk mengorganisasi pengumpulan sumbangan bagi orang-orang kudus. Namun, sewaktu Titus melakukan pekerjaan ini, ia berada dalam situasi yang menegangkan.
Surat Paulus kepada orang-orang Korintus menyingkapkan bahwa surat itu pertama-tama ditujukan kepada orang-orang Korintus agar mereka "berhenti berbaur dengan orang-orang yang melakukan percabulan". Ia harus memberi tahu mereka untuk mnenyingkirkan para pelaku percabulan dari tengah-tengah mereka. Ya, Paulus menulis surat yang keras kepada mereka, melakukannya "dengan banyak air mata". (1 Korintus 5:9-13; 2 Korintus 2:4) Sementara itu, Titus diutus ke Korintus untuk membantu mengumpulkan sumbangan yang dilakukan di sana bagi orang-orang Kristen Yudea yang berkekurangan. Kemungkinan, ia juga diutus untuk mengamati tanggapan orang-orang Korintus terhadap surat Paulus.—2 Korintus 8:1-6.
Bagaimana reaksi orang-orang Korintus terhadap nasihat Paulus? Karena sangat ingin tahu, Paulus boleh jadi mengutus Titus dari Efesus menyeberangi Laut Aegea ke Korintus, dengan instruksi untuk sesegera mungkin memberikan laporan. Jika misi tersebut diselesaikan sebelum pelayaran dinonaktifkan pada musim dingin (kira-kira pada pertengahan November), Titus dapat pergi ke Troas dengan kapal atau mengambil rute perjalanan yang lebih panjang lewat Hellespont. Paulus kemungkinan tiba di tempat pertemuan yang disepakati di Troas lebih awal, mengingat huru-hara yang dipicu oleh para perajin perak menyebabkan dia meninggalkan Efesus lebih awal daripada yang diperkirakan. Oleh karena itu, Paulus mengambil jalan darat dengan harapan bertemu dengan Titus di perjalanan. Pada waktu itu di daratan Eropa, Paulus mungkin melewati Via Egnatia, dan akhirnya ia bertemu Titus di Makedonia. Paulus dapat merasa lega dan bersukacita karena menerima kabar baik dari Korintus. Sidang itu telah menangani nasihat sang rasul dengan baik.—2 Korintus 2:12, 13; 7:5-7.
Meskipun Paulus bertanya-tanya sambutan macam apa yang akan diterima utusannya ini, Allah membantu Titus untuk memenuhi penugasannya. Titus diterima dengan "takut dan gemetar". (2 Korintus 7:8-15) Sesuai dengan kata-kata komentator bernama W. D. Thomas, "kita dapat beranggapan bahwa tanpa melemahkan kecaman Paulus, [Titus] berargumen dengan terampil dan bijaksana di hadapan orang-orang Korintus; meyakinkan mereka bahwa Paulus, sewaktu menyampaikan kata-katanya ini, hanya memikirkan kesejahteraan rohani mereka". Seraya waktu berjalan, Titus mulai mengasihi orang-orang Kristen di Korintus karena sikap mereka yang taat dan perubahan-perubahan positif yang mereka buat. Sikap mereka yang terpuji telah menjadi sumber anjuran baginya.
Bagaimana dengan aspek lain dari misi Titus ke Korintus—mengorganisasi pengumpulan sumbangan bagi orang-orang kudus di Yudea? Titus pun telah mengerjakannya, sebagaimana dapat disimpulkan dari keterangan 2 Korintus. Surat itu kemungkinan ditulis di Makedonia pada musim gugur tahun 55 M, tidak lama setelah Titus dan Paulus bertemu. Paulus menulis bahwa Titus, yang memprakarsai pengumpulan sumbangan itu, sekarang diutus bersama dua orang penolong yang tidak disebutkan namanya untuk menyelesaikan tugas tersebut. Karena sungguh-sungguh berminat terhadap orang-orang Korintus, Titus sangat bersedia untuk kembali. Ketika Titus mengadakan perjalanan ke Korintus, agaknya ia membawakan surat terilham Paulus yang kedua kepada orang-orang Korintus.—2 Korintus 8:6, 17, 18, 22.
Titus bukan saja organisator yang baik, melainkan ia juga dapat dipercaya untuk mengemban tugas-tugas yang rumit dalam situasi yang pelik. Ia berani, matang, dan teguh. Pastilah, Paulus menganggap Titus cakap menghadapi tantangan yang tak henti-hentinya dari "rasul-rasul yang sangat hebat" dari Korintus. (2 Korintus 11:5) Kesan tentang Titus ini dipertegas ketika ia kembali disebutkan dalam Alkitab, dalam penugasan berat lainnya

Tugas Titus di Kreta.  Kemungkinan, sekitar tahun 61 dan 64 M, Paulus menulis surat kepada Titus, yang pada waktu itu melayani di Pulau Kreta di Laut Tengah. Paulus meninggalkan dia di sana untuk "mengoreksi perkara-perkara yang kurang baik" dan untuk "menetapkan para tua-tua di kota demi kota". Secara umum, orang Kreta terkenal sebagai "pendusta, binatang-binatang buas yang merugikan, orang-orang gelojoh yang menganggur". Oleh karena itu, di Kreta, Titus lagi-lagi dituntut untuk bertindak dengan berani dan teguh. (Titus 1:5, 10-12) Tugas itu menuntut tanggung jawab yang besar, karena dapat menentukan Kekristenan di pulau tersebut. Di bawah ilham, Paulus membantu Titus dengan memberikan perincian kriteriacslon pengawas. Bahkan sekarang persyaratan-persyaratan itu masih dijadikan bahan pertimbangan sewaktu hendak melantik para penatua Kristen.
Alkitab tidak menunjukkan kapan Titus meninggalkan Kreta. Ia cukup lama berada di sana karena Paulus memintanya untuk memenuhi kebutuhan Zenas dan Apolos, yang singgah di sana dalam perjalanan pada waktu yang tidak disebutkan. Tetapi, Titus tidak mungkin terlalu lama berada di sana. Paulus hendak mengutus Artemas atau Tikhikus ke sana, dan kemudian Titus diharapkan bertemu dengan sang rasul di Nikopolis, yang kemungkinan besar adalah kota terkemuka di barat laut Yunani.—Titus 3:12, 13.
Dari rujukan singkat yang terakhir mengenai Titus yang terdapat dalam Alkitab, kita dapat mengetahui bahwa kira-kira tahun 65 M, Paulus masih mengutus dia untuk mengemban tugas lain. Penugasan itu membawanya ke Dalmatia, suatu kawasan di sebelah timur Laut Adriatik, yang sekarang ini adalah wilayah Kroasia. (2 Timotius 4:10) Alkitab tidak memberi tahu apa tugas Titus di sana, tetapi ada pendapat bahwa dia diutus untuk mengatur urusan sidang dan melaksanakan kegiatan utusan injil. Jika demikian halnya, Titus melayani dalam kapasitas yang serupa seperti tatkala ia di Kreta.
Titus diingatkan mengenai sifat-sifat orang yang boleh menjadi pemimpin jemaat. Seseorang yang hendak menjadi penatua maupun pemimpin jemaat haruslah orang yang tidak bercela atau tidak bercacat di dalam cara hidupnya. Hal ini bukan berarti menuntut seseorang yang sempurna tetapi menuntut seseorang yang cara hidupnya baik sehingga dapat menjadi panutan. Syarat kedua yang ditetapkan adalah memiliki satu istri saja.  Pada saat itu sering terjadi poligami ataupun perzinahan. Oleh karena itu, seorang penatua haruslah dapat menahan nafsunya dan hanya memiliki satu isteri atau satu suami saja. Kemudian syarat berikutnya adalah memiliki anak-anak yang beriman. Seseorang hendaknya dapat membina anaknya dengan baik sebelum membina orang-orang lain atau jemaat. Seorang penatua juga harus rendah hati, tidak cepat marah, dapat menguasai diri, dapat mendengar orang lain dan tidak serakah. Penatua adalah orang yang mengurus pekerjaan Allah. Oleh karena itu, penatua juga harus dapat bijaksana, saleh, dan menyukai hal-hal yang baik. Penatua bepegang kepada firman Tuhan, berkata benar, dan sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran firman Tuhan  Titus perlu mengangkat dan menetapkan syarat-syarat tersebut karena kondisi jemaat di Kreta saat itu banyak yang memberontak dan mengajarkan ajaran palsu.
Titus diajar mengenai bagaimana seharusnya kelakuan orang Kristen terhadap pemerintah dan terhadap masyarakat. Orang Kristen haruslah taat kepada pemerintah dalam segala sesuatu hal yang baik. Dengan demikian mereka dapat dipuji oleh masyarakat dan nama Yesus dimuliakan. Orang Kristen dituntut untuk ramah dan suka damai, jangan membenci orang, jangan suka bertengkar atau menimbulkan perpecahan. Paulus juga mengingatkan bahwa kita diselamatkan bukan semata-mata karena kebaikan kita tetapi karena rahmat Tuhan kepada manusia. [1]